Breaking News

Berhenti Sejenak di Stasiun Ruhani

Ilustrasi (foto: rumahsyo.com)
PKSTangerang.com - Ayo berhenti sejenak. Duduklah sebentar. Ini adalah saatnya bagi kita untuk berlabuh di stasiun ruhani. Berhenti bukan untuk meninggalkan kerja dan perjuangan. Tapi berhenti untuk memperbaharui jiwa kita. Membasuh hati dan pikiran kita. Sehingga gelora kerja dan perjuangan selalu berkobar.

Mari kita lakukan tazkiyatun nafs, membersihkan kotoran-kotoran yang menempel di sela-sela jiwa, yang selama ini mungkin tidak kita sadari. Mari bercermin di hadapan kitabullah. Lalu pandanglah jiwa kita, jangan-jangan ada israf terselip di sana yang membuat kita bersikap melampaui batas dalam hal makanan, minuman, berpakaian, rumah tinggal, dan hal-hal lainnya yang menjadi obsesi nafsu manusia?

Lihatlah jiwa-jiwa kita, jangan-jangan ada gelora tanafusud dunya (berlomba-lomba meraih dunia) yang melenakan kita dari berlomba-lomba meraih akhirat?

Jangan-jangan ada sikap meremehkan perbuatan aklul haram, mengkonsumsi yang haram, padahal kita mengetahuinya?

Jangan-jangan terlalu banyak laghwu yang kita kerjakan dibandingkan dzikir kepada-Nya; jangan-jangan terlalu banyak ucapan dan perbuatan batil, permainan, hal sia-sia, dan maksiat yang telah kita lakukan?

Jangan-jangan selama ini kita lebih banyak ittiba’ul hawa—menuruti keinginan dan selera nafsu, serta mengikuti keputusan emosi tanpa memperhatikan keputusan akal, syariat, dan tanpa memperhitungkan akibatnya?

Jangan-jangan telah bercokol tafrith dalam keseharian kita; sehingga kita melalaikan tugas-tugas ibadah yang seharusnya dijaga. Apakah kita telah menjaga shalat-shalat wajib kita? Bagaimanakah keakraban kita dengan shalat-shalat nafilah, qiyamu lail, shalat witir, shalat dhuha, wirid Al-Qur’an, dzikir, do’a, muhasabah, dan istighfar? Atau kita malah lebih sering terlambat datang ke masjid, bahkan tidak menghadirinya padahal tidak ada uzur yang dapat dibenarkan? Apakah kita juga telah melalaikan amal-amal kebajikan dan adab-adab kemasyarakatan seperti menjenguk orang sakit, ta’ziyah, menanyakan kabar, empati kepada sesama, dan lain sebagainya?

Lihatlah jiwa-jiwa kita. Manakah yang lebih banyak bergelora padanya, apakah gelora maksiat dan fujur? Ataukah gelora ketaatan dan takwa?

Stasiun Ruhani Kita

Ramadhan kan datang menjelang. Inilah dia stasiun ruhani kita. Mari kita buang kotoran-kotoran jiwa kita; sikap israf (melampaui batas), tanafusud dunya (berlomba-lomba memburu dunia), aklul haram (mengkonsumsi makanan haram), laghwu (perkataan dan perbuatan sia-sia), ittiba’ul hawa (menuruti hawa nafsu), tafrith (melalaikan amalan), dan kotoran-kotoran lainnya.

Shaum yang Mabrur

Mari kita bersihkan jiwa-jiwa ini dengan shaum yang mabrur, yaitu shaum yang mengarahkan jiwa melakukan al-imsak (pengendalian diri). Bukan hanya mengendalikan diri dari makan, minum, dan jima’ (bersetubuh) tapi juga mengendalikan diri dari ucapan dan perbuatan yang buruk, perkataan kotor,dan maksiat;

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan buruk, maka tiada artinya bagi Allah orang itu meninggalkan makanan dan minumannya (HR. Bukhari)

وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلا يَرْفُثْ، وَلا يَصْخَبْ

“Jika pada suatu hari salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berteriak”. (Muttafaq alaih)

Dalam hadits lain disebutkan,

أَعِفُّوا الصِّيَامَ؛ فَإِنَّ الصِّيَامَ لَيْسَ مِنَ الطَّعَامِ وَلا مِنَ الشَّرَابِ، وَلَكِنَّ الصِّيَامَ مِنَ الْمَعَاصِي، فَإِذَا صَامَ أَحَدُكُمْ فَجَهِلَ عَلَيْهِ رَجُلٌ أَوْ شَتَمَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ

“Sucikanlah puasa, karena puasa itu bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum saja namun puasa adalah menahan diri dari maksiat, dan jika pada suatu hari seseorang berpuasa lalu ada orang lain mencelanya atau mencacinya maka katakanlah: saya sedang berpuasa”. (At-Thoyalisi)

Dalam atsar disebutkan,

إذا صمتَ فلْيَصُمْ سَمْعُك وبصرُك ولسانُك عن الكذب والمَحارم، ودَعْ أذى الخاصَّة، ولْيَكُنْ عليك وقارٌ وسكينةٌ يومَ صيامك، ولا تجعلْ يومَ فطرِك وصومِك سواء

“Jika Anda berpuasa, maka puasalah juga pendengaranmu, penglihatanmu, lisanmu dari kata dusta dan yang diharamkan, tinggalkan sesuatu yang meyakitkan diri, dan jadilah dirimu orang yang tenang dan damai pada saat berpuasa, dan jangan jadikan saat berbuka dan berpuasa anda sama saja”.

Bulan Al-Qur’an

Di stasiun ruhani ini mari eratkan jiwa kita dengan Al-Qur’an. Perbanyaklah membaca dan mentadaburinya. Biarkanlah kesegaran butir-butir ayat Al-Qur’an meresap ke relung-relung kalbu dan menyalakan iman kita. Tenanglah dan nikmatilah. Jangan tergesa-gesa. Bukankah air sejuk pun kurang terasa nikmatnya, jika diteguk dengan tergesa-gesa?

Mari kita dengarkan Al-Qur’an. Mari pegang erat dengan sepenuh kemampuan. Jadikanlah ia cahaya penerang di perjalanan dan penawar bagi segala penyakit hati.

Dalam hadits dari Ibnu Mas’ud, Nabi saw. bersabda:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ مَأَدْبَةُ اللهِ فَاقْبَلُوا مِنْ مَأْدَبَتِهِ مَا اسْتَطَعْتُمْ ، إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ حَبْلُ اللهِ ، وَالنُّوْرُ الْمُبِيْنُ ، وَالشِّفَاءُ النَّافِعُ عِصْمَةٌ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِهِ ، وَنَجَاةٌ لِمَنِ تَبِعَهُ ، لاَ يَزِيْغُ فَيَسْتَعْتَبُ، وَلاَ يَعُوْجُ فَيَقُوْمُ ، وَلاَ تَنْقَضِي عَجَائِبُهُ ، وَلاَ يُخْلَقُ مِنْ كَثْرَةِ الرَّدِّ ، اتْلُوْهُ فَإِنَّ اللهَ يَأْجَرُكُمْ عَلَى تِلاَوَتِهِ كُلُّ حَرْفٍ عَشْرَ حَسَنَاتٍ ، أَمَّا إِنِّيْ لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ ، وَلَكِنْ أَلِفْ وَلاَمْ وَمِيْم

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah panggilan dari Allah, maka terimalah panggilan-Nya semampu kalian. Al-Qur’an ini adalah tali Allah. Cahaya yang terang, dan syifa’ (obat) yang bermanfaat. Qur’an adalah perisai bagi yang berpegang teguh kepadanya, dan penyelamat bagi yang mengikuti (petunjuk)nya. Tidak akan pernah menyimpang, karena Qur’an akan meluruskannya. Qur’an tidak akan pernah habis keajaiban-keajaibannya. Tidak akan pernah lenyap kemuliaan dan kelezatannya karena sering diulang. Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya Allah akan memberi pahala kepadamu karena bacaan itu untuk setiap hurufnya sepuluh kebajikan. Saya tidak mengatakan kepada kalian bahwa ‘alif lam mim’ itu satu huruf, tetapi ‘alif’ satu huruf, ‘lam’ satu huruf, dan ‘mim’ satu huruf.” (Hakim)

Ruku dan Sujud Tanda Penghambaan

Di stasiun ruhani ini, mari khusyukkan ruku dan sujud kita. Angkatlah tangan kita untuk bertakbir dengan penuh kesadaran akan keagunganNya; dengan penuh rasa takut akan ketinggian maqam-Nya.

Rukuk dan sujudlah dengan tekad membara untuk semakin tunduk, patuh, taat, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Kemudian renungkanlah ayat-ayat mu’ahadah (perjanjian) ini,

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-An’am: 162)

Sempurnakanlah dengan Sedekah

Stasiun ruhani ini mengajari kita kepedulian kepada sesama. Rasulullah saw bersabda, “Sebaik-baik sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR. Al-Baihaqi, Al-Khatib dan At-Turmudzi).

Salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan adalah memberikan ifthar (santapan buka shaum), “Barangsiapa yang memberi ifthar kepada orang-orang yang shaum, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang shaum tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Di stasiun ruhani ini kita menunaikan zakat fitrah yang bertujuan tiada lain untuk menyucikan orang yang melaksanakan shaum dan untuk membantu fakir miskin. Disini kita diajari tentang solidaritas dan kepedulian kepada sesama; menumbuhkan sikap menolong yang lemah, mewujudkan pemerataan, membersihkan jiwa kikir dan mewujudkan persaudaraan.

Jangan Sia-siakan Kesempatan Berharga

Di stasiun ruhani ini kita diberi kesempatan untuk mengisi ‘bahan bakar’ iman dan menambah bekal perjalanan. Maka janganlah disia-siakan. Jadikanlah shaum sebagai latihan pengendalian diri; jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman; jadikanlah shalat sebagai sarana mengingat penghambaan kepada-Nya; jadikanlah sedekah sebagai pembukti keimanan dan kepedulian kepada sesama.

Disini, di stasiun ruhani Ramadhan ini, mari kita mulai langkah dengan jiwa yang baru. Jiwa-jiwa yang memiliki kekuatan pengendalian diri dan motivasi beramal secara istiqamah. Jiwa-jiwa yang takwa.

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa…” (Q.S. Al-Baqarah: 183)

Sumber: Al-intima.com

Tidak ada komentar