Breaking News

Rekonstruksi Dakwah Ja’far

Kabtangerang.pks.id - Dalam banyak hal, sebenarnya Kaisar An Najasy raja Habasyah memiliki kemiripan dengan Raja Heraklius pemimpin Romawi. Mereka berdua beragama nashrani, memiliki pemahaman agama yang baik, berinteraksi dengan dakwah, menyambut seruan dakwah dengan baik serta menghadapi perlawanan dari rakyatnya jika berpindah agama. Tapi, hasil akhirnya berbeda dimana Kaisar An Najasy memeluk islam sedang Raja Heraklius tetap dalam agamanya.

Adanya hidayah dari Allah tentu menjadi faktor penentu. Namun ada baiknya kita kaji sebab - sebab lain agar kita bisa mendapat contoh keteladanan dalam berdakwah. Hemat kami, ada beberapa faktor kritis sehingga dakwah kepada Kaisar An Najasy berbuah keimanan. Diantaranya :

Pertama, Faktor Pelaku
Pada kasus Kaisar An Najasy, orang yang bertindak sebagai juru bicara kaum muslimin adalah Ja’far bin Abu Thalib ra. Seorang shahabat mulia, termasuk assabiqunal awwalun, kelak akan mati syahid dan dikabarkan tengah terbang disurga dengan kedua sayapnya. Artinya, beliau adalah seorang muslim yang memiliki banyak keutamaan (shahibul fadhilah).

Pada kasus Raja Heraklius, pertama beliau mendapatkan surat dari rasulullah. Momentum surat - surat dakwah sering disebut sebagai fase intisyarul fil ardhi. Lalu beliau mengkonfirmasi tentang apa, siapa dan bagaimana Muhammad melalui Abu Sufyan yang tengah berdagang ke Syam. Saat itu, Abu Sufyan belum masuk islam, pemuka kaum Quraisy, termasuk musuh nabi meski intensitasnya tidak seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Umayyah bin Khalaf dan lain-lain.

Dari sini, kita memahami bahwa seruan dakwah islam harus disampaikan oleh seorang muslim. Bisa jadi, ada orang non muslim memiliki pemahaman yang luas terhadap agama islam sebagaimana Snouck Horgronje. Bisa jadi, mereka pun memiliki kejujuran dalam menggambarkan ajaran islam sebagaimana Kareen Armstrong. Akan tetapi, seruan mereka hanya berbuah informasi dan ilmu pengetahuan semata. Lain halnya jika dakwah disampaikan oleh seorang muslim yang meyakini kebenaran agamanya. Maka akan ada proses argumentatif, upaya persuasif dan suntikan sugestif untuk menghantarkan hidayah Allah sebagaimana dipraktekkan oleh Dr Zakir Naik.

Kedua, Faktor Al Qur’an
Pada kasus Kaisar An Najasy, Ja’far bin Abu Thalib ra membacakan wahyu Al Qur’an, berupa permulaan Surat Maryam. Kaisar An Najasy dan para pendetanya menangis, lalu dia berkata “Sesungguhnya apa yang dibawa oleh Isa dan Muhammad berasal dari lentera yang sama”. Dia semakin yakin bahwa ajaran Muhammad adalah kebenaran hakiki.

Pada kasus Raja Heraklius, Abu Sufyan tidak menyampaikan wahyu Al Qur’an. Dengan jujur, dia menyampaikan siapa Muhammad dan pokok - pokok ajarannya. Dengan ilmu yang dimilikinya, Raja Heraklius lalu berkata “Jika Muhammad sebagaimana yang engkau ceritakan, niscaya dia akan menguasai tempatku berdiri (Negeri Syam)”. Bahkan dia juga berkata “Andai bertemu, niscaya akan ku basuh kakinya”. Sebuah ungkapan yang menunjukkan keyakinan atas kebenaran risalah Muhammad.

Dari sini, kita memahami bahwa seruan dakwah harus dilakukan dengan membacakan wahyu Al Qur’an. Karena lantunan ayat - ayat Al Qur’an mampu masuk ke relung hati, terlebih jika dibacakan dengan suara merdu sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Musa. Dan lantunan Al Qur’an bukan sekedar seremoni pembukaan sebuah acara, tapi benar - benar inti dari dakwah yang disampaikan. 

Saat ini, betapa banyak majelis dakwah yang kering dari lantunan Al Qur’an oleh muballighnya. Kajiannya mungkin lengkap dan menarik karena diiringi lagu, dibumbui humor dan didramatisasi dengan air mata. Hanya satu saja yang kurang, yakni lantunan ayat - ayat Al Qur’an dalam ceramahnya. Jika kita hadir sebagai mustami’, sungguh seperti ada sesuatu yang kurang.

Demikian pula dengan kajian ilmiah seputar Islam. Biasanya berbobot, penuh dengan data, fakta dan teori. Alhasil, kita mendapatkan kepuasan secara intelektual. Spektrumnya luas dan mendalam, mulai dari politik, ekonomi, sejarah dll. Hanya ada satu saja yang kurang, yakni lantunan ayat - ayat Al Qur’an dari penceramah dan pemateriya. Efeknya sama persis, kita pun merasa seperti ada sesuatu yang hilang.

Ketiga, Faktor Duniawi
Pada kasus Kaisar An Najasy, beliau rela kehilangan harta dan tahta demi keimanannya. Beliau siap menghadapi pemberontakan dari rakyatnya akibat berpindah keyakinan. Beliau bersama - sama kaum muslimin naik kapal untuk menyelematkan diri. Beliau akhirnya menulis surat kepada rasulullah bahwa dia sudah memeluk Islam. Pada hari beliau wafat, malaikat Jibril mengabarkan kepada rasulullah ihwal beritanya. Lalu rasulullah dan para shahabat shalat ghaib untuk Kaisar An Najasy.

Pada kasus Raja Heraklius, beliau masih berat untuk kehilangan harta dan kedudukannya. Saat mengumumkan bahwa dia sudah mengikuti ajaran Muhammad, sontak pengawalnya bereaksi keras. Lalu dia berkata, bahwa dirinya sekedar menguji sejauh mana keyakinan para pengawal dan punggawa kerajaannya terhadap agama nashrani. Meskipun dia memberi banyak hadiah kepada utusan muslim serta menulis surat bahwa dirinya sudah masuk islam, tapi rasulullah saw mendustakannya.

Dari sini, kita mengetahui bahwa banyak seruan dakwah yang ditolak, tidak direspon atau bahkan dimusuhi oleh objek dakwah. Bukan karena mereka tidak paham atas kebenaran islam atau tidak meyakini ajarannya, tapi karena ada belenggu duniawi. Karena banyak hal yang akan dipertaruhkan, karena begitu besar resiko yang mungkin akan dihadapinya. Sebagaimana jawaban Abu Jahal saat ditanya oleh keponakannya “Benarkah Muhammad sebagaimana yang sering engkau ceritakan?” 

Dengan tulus Abu Jahal menjawab “Tidak. Kami tahu masa kecilnya, kami tahu kemuliaan akhlaknya. Hanya saja antara Bani Hasyim dengan Bani Makhzum ada persaingan. Mereka menolong orang, kita pun menolong orang. Mereka memberi minum orang yang berhaji, kita pun sama. Lalu tiba - tiba dari Bani Hasyim ada yang menjadi nabi. Bagaimana kita akan menyainginya?”.

Karena itu, seruan dakwah harus diimbangi dengan penjelasan gamblang bahwa dakwah Islam bukan ancaman. Tidak ada proyek yang akan hilang, tidak ada jama’ah yang akan pindah, tidak ada jabatan yang akan diambil dll. Hal seperti ini harus dipahami benar oleh para dai, yakni memahami apa - apa yang tidak terucap dari setiap penolakan dakwah.

Khatimah
Pintu hidayah datang dari arah yang tidak disangka - sangka. Bisa jadi ada orang yang tidak mempan diceramahi dengan dalil, tapi langsung tersadar saat mendengar celoteh dai kecil diatas panggung. Tapi sebagai seorang dai, kita harus memiliki bekal - bekal penting, trik dan strategi agar kunci - kunci hidayah bisa datang kepada objek dakwah. Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar