Breaking News

Fraksi PKS Minta Pemerataan Persebaran Dokter

Anggota Fraksi PKS DPR RI Ahmad Zainuddin
Kabtangerang.pks.id - Anggota Fraksi PKS DPR RI Ahmad Zainuddin meminta pemerintah memperhatikan persebaran dokter di Indonesia sehingga dapat menempatkan tenaga medis sesuai dengan kebutuhan, terutama di daerah tertinggal, terluar, dan terdepan (3T).

Bidang kesehatan di Indonesia masih menjadi salah satu masalah utama pembangunan masyarakat. Meski jumlah dokter terbilang cukup, penyebarannya tidak merata, kata Ahmad lewat keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Senin(24/10).

Ia mengatakan bahwa dokter saat ini masih bertumpuk di daerah perkotaan. Ketidakmerataan itu menyebabkan tingkat kesehatan masyarakat di daerah tertinggal masih buruk dibanding dengan perkotaan.

"Ini pekerjaan rumah pemerintah yang harus segera memeratakan kesehatan masyarakat. Pemerataan kesehatan harus linear dengan pemerataan ekonomi dan pembangunan. Dokter harus sampai ke perbatasan dan pelosok," katanya.

Menurut dia, jumlah dokter di Indonesia sudah cukup berdasarkan standar layanan Jaminan Kesehatan Nasional dengan ukuran satu dokter melayani maksimal 2.500 orang.

Meskipun begitu, sejatinya standar rasio yang ditetapkan Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kesehatan Kementerian Kesehatan tersebut masih di bawah rata-rata rasio dokter di luar negeri, yaitu satu dokter berbanding untuk seribu orang.

Ahmad mengutip data Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) per 22 Oktober 2016.

Ia menyebutkan jumlah dokter di Indonesia mencapai 114.602 orang, tidak termasuk dokter spesialis dan dokter gigi. Artinya, tiap satu dokter bertanggung jawab melayani 2.225 penduduk dari total penduduk Indonesia sekitar 255 juta jiwa.

Angka rasio Indonesia, kata dia, masih di bawah beberapa negara ASEAN, seperti Malaysia dan Singapura. Data World Health Organization (WHO) tahun 2010 menyebutkan satu dokter di Malaysia menangani 835 penduduk, sementara satu dokter di Singapura menangani 513 penduduk.

Lebih lanjut politikus PKS itu mengatakan bahwa sampai saat ini masih ada lebih kurang 970 puskesmas atau 10 persen dari total 9.700 puskesmas di Indonesia yang tidak mempunyai dokter.

Fungsi-fungsi kedokteran di puskesmas tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sebenarnya tidak memiliki sertifikasi medis melakukan pengobatan.

"Jika merujuk pada standar rasio pemerintah, ya, sudah cukup. Akan tetapi, fakta banyak kasus gizi buruk, wabah penyakit, dan kesehatan masyarakat di daerah tertinggal masih buruk. Hal ini menunjukkan ada masalah dengan sistem distribusi dokter kita," katanya.

Oleh karena itu, dia berharap momentum Hari Dokter Nasional 24 Oktober menjadi pendorong bagi pemerintah lebih serius lagi dalam memperhatikan ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah agar dokter dapat nyaman, profesional, dan optimal dalam menunaikan kewajibannya.

Minimnya fasilitas kesehatan di daerah, kata dia, menjadi salah satu sebab dokter enggan bekerja di suatu daerah. Pemerintah juga harus memperhatikan kesejahteraan para dokter yang ditugaskan di daerah tertinggal, perbatasan, ataupun pelosok.

"Dokter juga manusia meski diikat oleh kode etik kedokteran. Pemerintah pusat bersama daerah harus memecahkan kendala-kendala penyebab distribusi dokter tidak merata," katanya.

Sumber: publicapos.com

Tidak ada komentar