Breaking News

Muhammad Tetap Mempesona




“Sungguh Aku mengutus engkau (Muhammad) dengan membawa kebenaran, sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada satu umat pun kecuali telah pernah diutus kepadanya seorang pembawa peringatan.” (QS. Fathir 24)
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia terbaik yang diciptakan secara maknawi, tapi menjadi Nabi terakhir yang diutus ke alam duniawi. Ucapannya adalah wahyu, langkahnya menjadi petunjuk, perilakunya merupakan cermin keteladanan.  Keagungan jiwa Rasulullah diakui kawan maupun lawan, keberaniannya mampu menggetarkan singa padang pasir, kelembutannya melebihi belaian kasih seorang ibu. Beliau sangat dicintai penghuni langit dan bumi, hingga potongan rambut dan bekas air wudhunya pun diperebutkan oleh sahabat-sahabatnya.
Rasulullah merupakan manusia termasyhur yang memancarkan keharuman alami. Tetesan keringat pun yang keluar dari tubuhnya diambil dan dimanfaatkan oleh para sahabat. Semesta raya memanjatkan doa, mengucap salam dan memohonkan kasih Allah baginya. Bahkan Sang Pencipta sendiri ikut mengucapkan salam kepadanya. 
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi (Muhammad). Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu sekalian untuk Nabi, dan berikan salam penghormatan untuknya.” (QS Al Ahzab: 56)
Kehadiran Rasulullah di bumi adalah anugerah terbesar yang membuat butiran-butiran gurun pasir seolah menjadi mutiara yang indah. Jejak langkahnya seolah menyejukkan padang tandus menjadi taman surga yang selalu membangkitkan rasa rindu dan ingin selalu diziyarahi oleh setiap umat. Pengetahuan yang diajarkannya terus-menerus mengalirkan hikmah dan kearifan bagaikan mata air zamzam yang tak pernah kering sepanjang zaman.
Hingga detik ini Rasulullah tetap dikenang sebagai Nabi yang agung, pemimpin yang adil, panglima yang gagah berani. Bahkan salah seorang sejarawan terkemuka, La Martine pernah mengungkapkan kekagumannya kepada Rasulullah. Dalam bukunya Histoire De La Turquie,1854, ia menyatakan bahwa, “Muhammad adalah seorang agamawan, reformis sosial, teladan moral, administrator massa, sahabat setia, teman yang menyenangkan, suami yang penuh kasih dan seorang ayah yang penyayang, semua menjadi satu.”
Jika kita kembali membuka lembaran-lembaran sejarah dari kehidupan Rasulullah, maka tidak akan dijumpai ada satu riwayat pun yang menyebutkan bahwa beliau pada tiap ulang tahun kelahirannya melakukan ritual tertentu. Bahkan para sahabat beliau sekaliber Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali bin Abi Thalib tidak pernah tercatat dalam sejarah mengadakan ihtifal (perayaan) secara khusus setiap tahun untuk mengekspresikan kecintaan dan kegembiraan atas hari kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Muhammad akan tetap seperti gunung yang menjulang tinggi ke langit, dan akarnya menghunjam kuat di kedalaman bumi. Sungguh benar ungkapan Abdullah bin Mubarak, ketika mendengar ada orang kerdil melecehkan iman Abu Hanifah, seorang imam besar,
"Wahai yang ingin Melampui gunung dengan ucapannya, boleh jadi kamu bisa melampui kepala manusia, namun tidak akan mampu menandingi tinggi dan tegarnya gunung!”. 
Sejatinya, cinta kepada Nabi Muhammad tidak hanya mengingatnya tatkala bulan Rabiul Awwal tiba tapi dengan berpegang teguh di atas sunnahnya, mengikuti segala sesuatu yang datang darinya dan meninggalkan hal-hal yang bertentangan dengan sunnahnya. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an: “Dan apapun yang diberikan Rasulullah kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)

Tidak ada komentar