Breaking News

Ibu, Oase Jiwa Tanpa Batas


Menjadi perempuan yang hebat karena cerdas, berakhlak mulia, dan bertaqwa pada Allaah adalah salah satu langkah dalam memperbaiki diri sekaligus mendidik generasi yang akan datang menjadi generasi cemerlang.
Seorang ibu mengerti apa yang anaknya hadapi, meski tak mengalaminya sendiri. Ada insting yang lebih kuat dari baja yang ditempa. Ada jiwa yang tiap detiknya hidup demi kita. Ibu adalah do'a. Setiap kata yang terlintas ataupun terlisan adalah do'anya. Bahagianya adalah bahagia-Nya. Marahnya adalah marah-Nya. Sukanya adalah suka-Nya. Sedihnya adalah sedih-Nya.
Ibu adalah memberi. Memberi cinta. Memberi kasih. Memberi sayang. Memberi ilmu. Memberi pengetahuan. Memberi segala yang ia punya, tanpa pernah mengharap segala balas juga kembali sekecil apa pun. Ibu adalah sandaran. Tempat mengeluarkan rasa. Tempat melepas penat. Tempat penghilang dahaga. Tempat bijak untuk sebuah energi baru.
Menjadi seorang ibu adalah keistimewaan juga sebuah niscaya. Tidak ada makhluk yang diistimewakan sedemikian rupa seperti Islam memuliakan perempuan. Syurga di bawah telapak kaki ibu, restu Allaah bersama restu ibu, bahkan jika kita mendidik laki-laki diibaratkan hanya mendidik satu individu, kita justru disebut mendidik satu generasi jika mendidik perempuan.
Tidak heran pula ada ungkapan “di balik keberhasilan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat yang mendampingi." Seorang ibu yang hebat memahami bagaimana menjadikan anaknya sehat secara fisik dan mental. Ia tahu pentingnya pendidikan bagi anaknya. Ia juga memikirkan masa depan anaknya agar menjadi manusia berilmu dan berakhlak mulia.  

Ia cerdas dengan wawasannya yang luas sehingga mampu memberikan solusi terbaik bila ada masalah dalam keluarga dan memberi kenyamanan dalam keluarga. Ia berakhlak mulia sehingga mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya dan sahabat setia suaminya. Ia bertaqwa pada Allaah sehingga mampu membawa keluarganya untuk senantiasa mengingat Allaah.
Dapat dikatakan bahwa ibu adalah madrasah pertama anak-anaknya. Ia seorang pembangun pondasi peradaban dini bagi anak-anaknya. Demikian pula menjadi seorang istri. Baktinya pada suami adalah jihad dan syurga. Menjadi seorang ibu dan juga istri merupakan peran yang didambakan setiap perempuan. Sejatinya seorang ibu ialah oase jiwa tanpa batas. Meski ia sudah memiliki profesi sebagai guru, perawat, dokter, atau profesi lainnya, seorang ibu tetap menjadi cita-cita mulia.
Peran dan posisi seorang ibu, adalah peran yang sangat strategis, peran yang tidak bisa digantikan oleh siapapun, dalam membangun umat dan peradaban. Dari hati, jiwa, perasaan, pikiran dan tangannya yang penuh ketulusan dan kasih sayang, berhasil mencetak manusia-manusia pilihan yang menjadi pemimpin di segala medan kehidupan. 
Di era milenial ini tentu peran dan kontribusi para ibu menjadi sangat penting dalam upaya melahirkan generasi berkualitas, beriman, dan bertaqwa. Sehingga para generasi penerus ini mampu mengelola bangsa ini menjadi bangsa yang maju, bermartabat dan sejahtera. Hadirnya generasi berkualitas sekaligus beriman dan bertaqwa menjadi jawaban atas berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa. Bahkan mereka inilah yang diharapkan akan mampu membangun bangsa ini menjadi lebih maju dan bermartabat.
Peran dan kontribusi itu akan dapat dilakukan dengan adanya pengetahuan, keikhlasan, dan pengorbanan. Pengetahuan merupakan dasar agar setiap para ibu memiliki dasar dan pemahaman terhadap berbagai hal. Dengan ilmu para ibu menjadi yakin akan kebenaran yang dipahaminya. Keikhlasan akan menjadi kekuatan untuk tidak pantang menyerah di dalam mewujudkan ketahanan keluarga. Begitu juga dengan pengorbanan, membuat kita terus bersemangat untuk mencapai yang lebih baik lagi. 
Sungguh peran dan kontribusi Ibu tak bisa tergantikan sebagai poros perubahan bangsa. Peran dan kontribusi para Ibu inilah yang telah menghasilkan para pemimpin-pemimpin bangsa. Selamat hari Ibu, bakti yang tulus dan kiprah yang tak tergantikan, untuk bangsa yang berjaya.   

Tidak ada komentar