Breaking News

Kutuk Kebijakan Trump, Anis Matta; Sudah Waktunya Indonesia Berperan Di Panggung Geopolitik Dunia!


x



Tidak ada tanah yang lebih bergolak selain Palestina. Sejarah Palestina adalah sejarah panjang peperangan. Palestina adalah pusat tiga agama dan peradaban besar: Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketiganya saling mempertahankan eksistensinya atas tanah suci di sana. Inilah tempat bertemunya bangsa-bangsa di satu titik konflik dalam kurun waktu yang sangat panjang. Tapi satu hal yang pasti, Palestina bukanlah tanah kosong tanpa bangsa, bukan pula milik Zionis Israel, sebuah bangsa yang tidak memiliki tanah pemukiman.
Tiga puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 9 Desember 1987 lalu, rakyat Palestina meninggalkan rumah-rumah mereka demi meraih kemerdekaan. Tua, muda, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, mereka semua bersatu padu, bergerak melawan tentara penjajah Israel. Harta hingga jiwa mereka korbankan, untuk melawan kezhaliman yang telah merampas hak hidup mereka, dan juga telah menistai masjid Al-Aqsha yang dimuliakan. Al-Aqsha merupakan masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam, dan kini masjid itu ingin dirobohkan oleh Zionis Israel. Masjid itu setiap harinya terus mendapatkan serangan, dinistai oleh militer Israel, para pemukim dan rabi-rabi Yahudi, serta jama'ah shalatnya ditakut-takuti dengan bunyi rentetan suara mesiu.
Dua hari lalu, tepatnya pada hari Rabu siang waktu Amerika, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengumumkan beberapa hal kontroversial terkait dengan Palestina. Pertama, Amerika mengakui Al-Quds (Yerusalem) sebagai ibukota Israel. Kedua, Amerika akan memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Al-Quds. Ketiga, Masjid al-Aqsha berdiri di atas bukit Haikal Sulaiman. Dalam sejarahnya, Palestina telah melawati tiga kali masa Intifadhah. Saat ini memasuki Intifadhah yang keempat. 
Intifadhah pertama disebut dengan nama Al-Intifadhah Al-Mubarakah, yang meletus di bulan Desember 1987. Perlawanan rakyat ini akhirnya berhenti pada bulan September 1993 bersamaan dengan ditandatanganinya kesepakatan Oslo, antara Otoritas Palestina dengan Israel. Sebanyak 1.392 warga Palestina gugur sebagai syuhada dalam aksi Intifadhah pertama itu. Selanjutnya Intifadah kedua yang dikenal dengan nama Intifadhah Al-Aqsha pada bulan September tahun 2000. Penamaan Al-Aqsha tidak lepas dari penyebab meletusnya aksi itu, yaitu ketika Perdana Menteri Israel ketika itu, Ariel Sharon memaksa masuk ke dalam komplek masjid Al-Aqsha dengan membawa 1.200 personil kepolisian.
Menghadapi kondisi ini, jama'ah masjid suci Al-Aqsha tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan. Bentrokan pun meletus, darah suci para penjaga masjid Al-Aqsha membasahi pelataran masjid. Intifadhah ketiga dimulai pada tanggal 1 Oktober 2015, dengan nama Intifadhah Sakakin. Artinya perlawanan dengan menggunakan pisau. Sedang Intifadhah keempat dimulai hari ini, 8 Desember 2017 yang dinamakan dengan  Pembebasan Al-Quds dan Tepi Barat (Intifadhah Huriyyat Al-Quds).
Perdana Menteri Inggris Theresia May mengatakan pengumuman Trump tidak membantu dalam hal prospek perdamaian wilayah ini, dan Inggris tidak akan mengikutinya. Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Angela Merkel juga mengutuk langkah tersebut. Termasuk Turki, Yordania, Mesir dan Lebanon yang juga mengkritik sikap Trump. 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengingatkan masalah Yerusalem merupakan 'garis merah' buat Muslim. Erdogan akan bergerakan bersama Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menentang setiap upaya pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sebelumnya, dalam sebuah pidato singkat di Gedung Putih, Trump meminta departemen negara bagian untuk mulai membuat pengaturan untuk memindahkan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem. 
Yerusalem dan Palestina bagaikan satu tubuh. Dalam resolusi PBB nomor 2334 tahun 2016 sudah jelas keputusan Trump ditolak bahwa pembentukan pemukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki sejak tahun 1967 termasuk Yerusalem Timur tidak memiliki keabsahan hukum dan merupakan pelanggaran mencolok di bawah hukum internasional. Trump tidak menyadari besarnya penghinaan yang telah ditimbulkan akibat kebijakan kontroversinya tersebut. Tidak ada kata lain, ini merupakan tindakan pembangkangan legitimasi dunia internasional dan ekstremisme yang sesungguhnya. Semestinya tiap para pemimpin politik menciptakan berbagai kebijakan ke arah yang lebih baik ke depannya bukan malah menuai kekacauan. 
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Badan Kerja Sama Internasional Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta, "Kawasan Timur Tengah terguncang lagi oleh arogansi Presiden AS Donald Trump. Langkah Trump mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel bukan saja blunder tetapi ahistoris. Langkah Trump akan mengeskalasi ketegangan kawasan Timur Tengah dan menambah luka warga Palestina.Terbukti intervensi Amerika di Irak dan Libya hanya menyisakan puing-puing negara gagal dan krisis kemanusiaan. Tidak berlebihan jika ada yang menilai ini adalah langkah Trump untuk mengalihkan isu karena tekanan politik di dalam negeri. Sudah lama Amerika menempatkan masalah internasional sebagai komoditas politik dalam negeri mereka. Artinya, mereka mengintervensi dan merusak negara lain untuk kepentingan politik domestik mereka sendiri. Ini tidak adil dan tidak beradab. 
Saya mengapresiasi pernyataan tegas Presiden Jokowi terhadap langkah Trump tersebut. Indonesia harus ikut dalam upaya menghapus penjajahan sebagaimana tertuang dalam konstitusi. Indonesia harus konsisten dalam sikap terhadap Palestina. Kita pernah tunjukkan sikap kepada Afrika Selatan ketika masih menganut apartheid. Kini kita bersahabat dengan Afrika Selatan. 
Bahkan Nelson Mandela menjadi penggemar batik Indonesia. Sebagai negeri muslim demokratis terbesar di dunia dan negara terbesar di ASEAN, sudah waktunya Indonesia berperan di panggung geopolitik dunia. Yaitu ketika tatanan global sekarang sedang terseok-seok. Bung Karno menggalang kekuatan negara-negara Asia-Afrika untuk melawan kolonialisme, dan menggagas Gerakan Non Blok untuk keluar dari perang ideologi komunisme vs kapitalisme. Indonesia harus segera menggalang negara Islam yang tergabung dalam OKI untuk  merapatkan barisan. Peran kepemimpinan Indonesia harus terasa di OKI. Ini tanggung jawab sejarah. Dunia tanpa penjajahan dan penindasan adalah cita-cita kita semua. Kobarkan semangat Indonesia. Allahu akbar."




x

Tidak ada komentar