Breaking News

Untuk Apa Kita Membela Al-Quds?


Oleh: Shofiyah Najiyah
Bertahun-tahun Palestina dijajah oleh zionis Israel sejak tahun 1967. Warga Palestina semakin berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Israel terus menerus melakukan rangkaian besar dalam skenarionya menguasai Palestina yang memiliki ibu kota Yerusalem atau dalam bahasa arab dikenal dengan Al-Quds. Pada tahun 1968 Israel mengambil alih Tembok Buroq, lalu mengubah namanya menjadi Tembok Ratapan. Kini tembok tersebut menjadi tempat peribadatan Yahudi terbesar. 
Setahun berikutnya Israel membakar sepertiga dari Masjid Kiblat pertama umat muslim yakni Masjid Al-Aqsha. Lambat laun tentara Israel mencoba menguasai Masjid Al-Aqsha, sampai pada 14 Juli 2017 ditutupnya Masjid Al-Aqsha secara total. Kemudian pada Rabu 6 Desember 2017 dunia internasional dikejutkan oleh pengakuan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Pengakuan Presiden Amerika Serikat ini mendapat banyak kecaman dan kritik dari berbagai penjuru di dunia. Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini, mengatakan langkah sepihak yang dilakukan AS merupakan bentuk dukungan terhadap penjajahan yang wajib ditentang. Pengakuan Donald Trump dilatar belakangi oleh janji yang ia lontarkan pada saat kampanye kursi Presiden Amerika Serikat pada 2016 lalu untuk memindahkan kedubes Tel Aviv ke Yerusalem. 
Trump juga menambahkan bahwasanya tujuan dari kebijakan tersebut ialah memberikan unsur kedamaian antara Israel dan Palestina. Yerusalem sebagai saksi peninggalan tiga agama besar di dunia (Islam, Nasrani dan Yahudi) akan terancam bahaya bila Al-Quds tetap dijadikan ibu kota Israel. Allah sangat memuliakan Palestina karena menjadi bumi para Nabi dari Nabi Ibrahim hingga Nabi Isa mengajarkan risalah tauhid pada umatnya. Namun, dengan dalih menjaga keamanan dan stabilitas negara, Israel akan merenggut seluruh hak yang dimiliki bangsa Palestina dan Arab untuk datang ke tempat-tempat suci di Yerussalem terutama Masjid Al-Aqsa. Israel akan mengendalikan Yerussalem sesuka hati hingga pengusiran siapapun yang tidak memiliki identitas Israel di Yerusalem. 
Mengorbankan Al-Quds pada Israel, sungguh, berarti sama saja dengan menyerahkan peninggalan sejarah penting untuk dihapuskan dan membawa kekacauan lebih lanjut lagi di Palestina. Amerika tentunya menjadi negara pertama yang secara resmi menyetujui keputusan Trump. Namun, tidak dengan negara timur tengah seperti Iran, Turki, dan Suriah. Inggris, Prancis, Lebanon, Yordania, dan Indonesia juga turut memprotes tindakan Trump yang akan menginstruksikan Departemen Luar Negeri untuk mulai memproses perpindahan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke kota suci Yerusalem. Apa yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat sama saja mengabaikan penghormatan atas hak asasi manusia dan melanggar resolusi badan-badan dunia. PBB dalam Resolusi Majelis Umum PBB 4 Juli 1967 hingga Resolusi 23 Desember telah menegaskan perlindungan Yerusalem terhadap okupasi Israel.  
Lebih jauh lagi Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, mengatakan bahwa pengakuan Trump bukan hanya sebuah pelanggaran terhadap hukum internasional, akan tetapi juga pukulan besar terhadap hati nurani kemanusiaan. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) akan menggelar sidang di Istanbul, Turki, 13 Desember 2017 sebagai usaha membatalkan kebijakan Trump. Aksi solidaritas juga dilakukan di berbagai negara termasuk Indonesia di depan Kedubes Amerika Selatan. Sejak juli 2017, Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Haris Yuliana, mengatakan bahwa ghirah umat Islam harus bangkit. Siapapun harus aktif menunjukkan sikap tegas kepada Israel menolong Palestina, yang menjadi warisan keimanan umat Islam. Agar kemerdekaan bisa direngkuh warga Palestina setelah berpuluh-puluh tahun dalam intimidasi Israel. Namun, amat disayangkan masih banyak muslim yang beranggapan bahwa tak perlu repot mengurus negara orang lain, toh janji Allah islam kelak akan jaya juga. Adapula yang mengatakan dan untuk apa aksi, demo, posting-posting, like atau share berita tentang Palestina di media social? padahal hukum Allah juga nanti tegak. Bahkan usaha kita tidak banyak berdampak untuk mereka.
Ketahuilah saudaraku, mengapa Allah belum juga membinasakan kaum Bani Israel. Padahal mudah bagi Allah membinasakan suatu kaum atas kehendaknya. Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Akan tetapi mengapa Allah belum juga melenyapkan kaum yang pernah menutup bahkan membakar masjid yang dahulu Rasulullah melakukan Isra dan shalat bersama para nabi? Sebab Allah mau menguji hamba-Nya, seberapa besar perjuangan hamba-Nya dalam menolong agama Allah. Allah sengaja belum membinasakan Bani Israel sebagai medan jihad kita menolong agama Allah.
Mungkin usaha yang kita lakukan tidak mengubah keadaan Al-Quds, namun biarlah Allah tahu dimana posisi kita saat nasib Al-Quds di ujung tombak. Agar kelak kita wafat dapat menjawab usaha apa yang kita lakukan dalam membantu penderitaan saudara kita di Palestina. Hukum Allah pasti kelak akan tegak, tetapi apakah kita menjadi bagian yang berjuang menegakkan atau hanya sebagai penonton dalam diam menunggu takdir-Nya. Semua orang punya peran dalam kejadian apa pun. Tentu sebagai umat Islam, kita punya peran dalam membela agama agama Allah beserta peninggalan-peninggalannya.
Atas dasar akidah seluruh umat Islam, tidak hanya mendoakan kita tetapi kita juga wajib memahami problematika Palestina dan menyosialisasikan kondisinya. Telah turun dalil perintah kepada umat Islam dalam jihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa yang tentunya disesuaikan dengan kondisi mereka. Hal ini disebabkan Palestina merupakan tanah waqaf umat Islam yang harus dipertahankan sampai kapan pun. 
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (Q.S: At-Taubah:9)
Mengacu pada Surat Muhammad ayat 7 yakni Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.& Allah memang memerintahkan kepada semua mukmin untuk menolong agama-Nya, berdakwah kepada-Nya, dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya dengan mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janji dari Allah bahwa barang siapa yang menolong agama-Nya baik dengan ucapan maupun perbuatan, maka Dia akan menolongnya, memudahkan sebab-sebab pertolongan, seperti keteguhan badan atas kesabarannya. Jadi adakah alasan untuk tidak membela, menolong dan mendoakan Palestina beserta Ibu Kotanya, Al-Quds? 
Editor: Amallah Mujahidah

Tidak ada komentar