Breaking News

Dari Pesantren Ke Parlemen

Hidayat Nur Wahid
DR Hidayat Nur Wahid, MA adalah sosok yang sangat kental dengan dunia pesantren dan keislaman. Lahir dari keluarga yang religius, di daerah Prambanan, Klaten. Beliau lalu menempuh pendidikan pesantren di Ponorogo, Jawa Timur, yakni di Ponpes Walisongo dan dilanjutkan ke Ponpes Darussalam Gontor. Lulus dari Ponpes Darussalam Gontor, beliau kuliah di IAIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta. Setelah mendapatkan beasiswa, beliau lalu terbang ke Universitas Islam Madinah, mengambil jurusan S1 dan S2 difakultas Dakwah dan Ushuluddin.

Dengan latar pendidikan yang seperti itu, sedikit banyak kita bisa memahami apa dan siapa sosok DR Hidayat Nur Wahid, MA. Beragam kiprah dan jabatan yang pernah disandangnya, semuanya kental dengan karakter dan nilai - nilai keislaman. Baik dalam posisi sebagai dosen, dai, aktivis hingga politisi. Beliau pernah memimpin partai islam terbesar di dunia (PKS), pernah pula memimpin parlemen dari sebuah negeri berpenduduk islam terbesar di dunia (MPR RI). Tidak pernah sekalipun terdengar kasus - kasus miring dari beliau, seperti halnya korupsi, narkoba, selingkuh dll. Inilah salah satu bukti kuatnya prinsip keislaman yang dia pedomani.

Ponpes Darussalam Gontor memiliki sejarah yang panjang dinegeri ini. Pernah merasakan situasi teror pemberontakan PKI Madiun. Salah satu prestasi besarnya adalah saat para alumninya menjadi pimpinan ormas islam dalam kurun waktu yang bersamaan, yakni Alm KH Hasyim Muzadi (ketua PBNU), KH DR Dien Syamsuddin (ketua PP Muhammadiyah), KH Ahmad Satori Ismail (Ketua PP Ikadi). Sedangkan DR Hidayat Nur Wahid, MA menjabat sebagai ketua MPR RI. Sebuah prestasi besar dan membanggkan, yang sulit untuk diraih oleh lembaga lain, ataupun diulang oleh Ponpes Darussalam Gontor.

Pada masa terdahulu, ada seorang tokoh besar bernama Umar bin Abdul Azis. Beliau adalah seseorang yang dikomentari oleh shahabat Anas bin Malik ra (pembantunya rasulullah) bahwa bacaan shalatnya sangat mirip dengan rasulullah. Kualitas keilmuannya sangat mumpuni, sehingga Imam Ahmad bin Hambal menyebutnya sebagai sosok mujaddid di abad pertama. Namun pada akhirnya, kita semua lebih mengenalnya sebagai seorang khalifah (jabatan politik) karena beliau didaulat menjadi khalifah dinasti Bani Umayyah. Andai beliau tidak pernah menjadi khalifah, niscaya kita semua akan lebih mengenalnya sebagai ulama besar.

Jangan pernah meragukan kapasitas keilmuan agama yang dimiliki oleh DR Hidayat Nur Wahid, MA. Hanya saja, beliau memang lebih kita kenal sebagai seorang politisi dan anggota parlemen. Andai beliau tidak berkiprah di PKS dan MPR RI, mungkin kita juga akan lebih mengenalnya sebagai seorang ustadz, dai dan muballigh. Wallahu a'lam.

Eko Jun

Tidak ada komentar