Breaking News

Soal 'Ibu Indonesia', Ini Tanggapan Netty Heryawan

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Netty Prasetiyani Heryawan 
SOREANG - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Netty Prasetiyani Heryawan yang juga istri Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, turut memberikan berkomentar seputar polemik puisi 'Ibu Indonesia' karya Sukmawati Soekarnoputri. Sebelumnya, puisi itu banyak menuai kritik karena dianggap menyinggung umat Islam di Indonesia.

Netty mengingatkan kepada seluruh masyarakat dan termasuk dirinya sendiri untuk berhati-hati dan mawas diri saat memproduksi ucapan atau tindakan yang bisa menyinggung agama tertentu dan hal-hal yang sensitif. "Kita adalah negara yang Bhineka Tunggal Ika. Negara yang dibangun dengan perbedaan. Saya mengingatkan diri saya dan orang lain untuk berhati hati dan mawas diri saat kita mmproduksi entah ucapan apalagi tindakan yang kemudian menyinggung ruang sensitif apalagi menyinggung agama tertentu," ujarnya akhir pekan ini di Soreang.

Netty memaklumi, jika umat Islam di Indonesia marah dengan puisi yang dibacakan anak mantan presiden Indonesia pertama tersebut. Sebab, puisi yang dibacakan saat acara Indonesia Fashion Week beberapa waktu lalu telah mengusik agama Islam.

"Saya sangat memahami umat Islam tersinggung, azan dipadankan dengan kidung dan hijab dipadankan dengan konde. Tentu itu gak apple to apple," ujarnya.

Dia mengatakan, perbandingkan yang dilakukan oleh penulis tersebut sangat tidak pas untuk diperbandingkan. Netty menceritakan saat melakukan penelitian untuk disertasi, dosen di kampusnya memberitahukan jika terdapat sumber kebenaran yang tidak bisa diperdebatkan yaitu wahyu.

"Di ruang akademis, dosen saya mengatakan ada sumber kebenaran yang tidak bisa diperdebatkan yaitu wahyu. Anda menulis disertasi, silakan Anda mendebat teori dari pakar, tapi kalau sumber kebenaran tidak boleh diperdebatkan," ungkapnya.

Terkait permintaan maaf yang dilakukan kepada umat Islam oleh Sukmawati, dirinya mengungkapkan, sebagai bangsa yang terkenal dengan nilai ketimuran maka mesti dimaafkan. Namun, katanya, jika ada kelompok yang ingin melanjutkan ke ranah hukum itu menjadi pilihan mereka. Sebab Indonesia merupakan negara hukum.

"Mari sama sama saling menghormati pada hal hal yang kita bersepakat di dalamnya. Hal yang harus dihormati ibadah, urusan dengan agama. Hormati jangan diotak atik dengan teori yang tidak berkesesuaian," katanya.

Sumber: republika.co.id

Tidak ada komentar