Breaking News

Salim Segaf Al-Jufri, Pilih Menginap di Rumah Warga Dibanding Hotel Mewah

 Ketua Majelis Syuro PKS, Habib Salim Segaf Al-Jufri saat menjadi Menteri Sosial Salim 2009-2014 mengunjungi dan berbincang dengan anak-anak jalanan yang tinggal di pinggiran rel Pejompongan, Jakarta, beberapa tahun lalu. (antara.com)

Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Salim Segaf Al-Jufri dikenal sebagai salah satu tokoh yang bersahaja. Pria kelahiran Solo, 17 Juli 1954 tersebut, saat ini direkomendasikan jadi salah satu calon wakil presiden (Cawapres) untuk mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2019. Rekomendasi itu dihasilkan melalui Ijtima' Ulama dan Tokoh Nasional di Jakarta, Minggu (29/7).

Irfan Fauzi Arief, Mantan Tim Ahli Mensos mengakui, Salif Segaf merupakan sosok yang bersahaja. Saat menjadi Menteri Sosial era Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II, Salim Segaf yang melakukan perjalanan ke daerah-daerah, sering menginap di rumah masyarakat dibanding hotel mewah. "Beliau juga sangat santun, jujur, lembut dan rajin beribadah. Saat Ramadhan, beliau biasa beri’tikaf di masjid," tutur Irfan.

Menurut Irfan, dirinya sering menemani Salim Segaf melakukan kunjungan kerja ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Bahkan daerah sulit dituju karena faktor geografis dan tidak pernah dikunjungi aparat pemerintah, bahkan sekelas camat setempat sekalipun. 

"Dan yang menarik, ketika beliau menjadi Menteri Sosial, ketika kunjungan kerja beliau sering meminta tidur di rumah warga yang paling miskin di daerah tersebut, tidak perduli apa agama dan suku warga miskin tersebut. Jadi ketika menjadi Mensos, Habib Salim biasa tidur di rumah warga sangat miskin yang lantainya tanah dan dindingnya bilik," ungkapnya.

Lantaran Menteri tidur di rumah warga di kampung, maka otomatis pejabat daerah seperti bupati dan gubernur akhirnya terpaksa ikut tidur di rumah warga yang rumahnya tidak layak huni tersebut. 

Menurut Irfan, inilah model pendidikan experetial learning yang diterapkan Salim Segaf ketika menjadi Mensos kepada para pejabat di lingkungan Kementerian Sosial (Kemensos) dan kepada para pejabat di daerah, agar mereka bisa merasakan langsung bagaimana rasanya hidup di rumah yang tidak layak huni. Sehingga nantinya diharapkan bisa terpanggil nuraninya untul bekerja lebih baik buat masyarakatnya. 

"Beliau adalah sosok yang bersahaja, intelektualitas akademiknya tidak patut diragukan dan pengalaman menjadi pejabat publik pun sudah teruji. Mulai jadi Dubes sampai Menteri, beliau guru yang mendidik tapi tidak menghardik, mengkritik tapi tanpa harus mencaci. Sosok bersahaja, yang pantas menjadi tokoh di negeri ini, apalagi beliau mewakili masyarakat Indonesia timur," tutur Irfan yang saat ini menjabat Direktur Paramitra Foundation.

Salim Segaf, menghabiskan masa kecil di Kota Bengawan. Ia lahir di kawasan Pasar Kliwon, Solo dan menyelesaikan sekolah di SD Diponegoro. Setelah SD, Salim pindah ke Palu. Di kota ini, Ayah lima anak ini mengenyam pendidikan MTs Al-Khairaat dan MA Al-Khairaat. Sangat masuk akal, karena Ustadz Salim adalah cucu dari ulama besar yang menetap di Palu, yakni KH Said Idrus Al Jufri. Ulama yang lebih dikenal dengan nama “Guru Tua Al Jufri” adalah pendiri Yayasan Al Khairaat.

Lulus dari MA Al-Khairaat, Ustaz Salim merantau ke Arab Saudi, dan menyelesaikan jenjang S1, S2 dan S3 di Jurusan Syariah, Madinah University. Usai menyelesaikan pendidikannya di Arab Saudi, Salim kembali ke Indonesia dan menjadi pengajar di Program Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah, Dosen Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta. Selain itu juga menjadi staf pengajar di Fakultas Syariah LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab), Jakarta. Di kancah internasional, Ustadz Salim merupakan Direktur Perwakilan WAMY (World Assembly of Muslim Youth) di Asia Timur dan Asia Tenggara sejak tahun 2002 hingga sekarang.

Pada 20 Juli 1998, Partai Keadilan (PK) dideklarasikan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta. Kemudian PK berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di partai dakwah ini, Ustadz Salim pernah menjabat sebagai ketua dewan syariah. 

Kemudian, pada tahun 2005, beliau ditunjuk Presiden SBY menjadi Dubes untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kerajaan Oman sejak Desember 2005, yang konon satu-satunya Duta Besar yang menjabat Dubes selama 4 tahun dalam sejarah diplomat di Indonesia. Kemudian, beliau masuk dalam jajaran kabinet sebagai Menteri Sosial RI dalam Kabinet Indonesia Bersatu II (2009 – 2014).

Ustadz Salim menikah dengan Zaenab Alwi Basri dan dikaruniai lima anak, yaitu Idrus Salim, Sarah Salim, ‘Afaf Salim, Rihab Salim dan Sumayyah Salim.

Sumber: suaramerdeka.com

Tidak ada komentar