PKS Kabupaten Tangerang


SERANG — Tanjakan, turunan, jalan panjang, dan tubuh yang mulai lelah menjadi bagian dari perjalanan sekitar 200 kader penggerak PKS Kabupaten Tangerang dalam Kemah Bela Negara (Kembara) Madya 2026, 23–25 Agustus 2026. 

Para peserta melakukan long march menuju lokasi kemah berikutnya. Mereka berjalan kaki melewati medan yang menanjak dan menurun. Bagi sebagian peserta, perjalanan ini tentu menguras tenaga. Namun barisan tetap bergerak. Saling menunggu, saling membantu, dan menyelesaikan perjalanan bersama. 

Namun ada pesan yang lebih penting dari sekadar berhasil menaklukkan medan. 

Sebelum keberangkatan, Ketua BKAP, Asep, mengingatkan bahwa Kembara bukan sekadar aktivitas fisik di alam terbuka. Setiap aktivitas yang dijalani peserta merupakan bagian dari proses pembinaan yang menyentuh tiga sisi penting: ruhiyah, maknawiyah, dan jasadiah. 

“Dalam Kembara ini semuanya dilakukan, baik ruhiyah, maknawiyah maupun jasadiah. Jangan sampai setelah Kembara ini hal-hal tersebut tidak dilakukan lagi. Justru ini menjadi latihan,” ujar Asep Aang. 

Kalimat tersebut menjadi pesan utama di balik perjalanan panjang para peserta. 

Sebab tanjakan hanya akan selesai ketika kaki terus melangkah. Begitu pula pembinaan. Ia hanya akan menghasilkan perubahan ketika latihan yang dilakukan selama Kembara diteruskan setelah peserta kembali ke lingkungan masing-masing. 

Asep menjelaskan, Kembara merupakan bagian dari kurikulum pembinaan terbaru. Karena itu, apa yang dilakukan selama tiga hari di alam terbuka tidak dimaksudkan sebagai aktivitas yang berdiri sendiri. 

“Kembara baru latihan, dan pelaksanaannya ada di pembinaan-pembinaan,” katanya. 

Dengan demikian, long march bukan sekadar perjalanan dari satu camp ke camp berikutnya. Ia menjadi latihan untuk membangun ketahanan, kedisiplinan, kebersamaan, sekaligus kemampuan menghadapi situasi yang tidak selalu nyaman. 

Tanjakan mengajarkan ketekunan. Turunan mengajarkan kehati-hatian. Jalan panjang mengajarkan kesabaran. Dan perjalanan bersama mengajarkan bahwa tidak semua orang harus berjalan dengan kecepatan yang sama. 

Yang penting, tidak meninggalkan siapa pun sendirian di tengah perjalanan. 

Semangat itulah yang diharapkan terbawa pulang. Sebab tantangan pembinaan tidak berhenti ketika tenda dibongkar atau ketika peserta meninggalkan Gunung Malang. 

Justru setelah Kembara selesai, latihan yang sesungguhnya dimulai. 

Nilai ruhiyah, maknawiyah, dan jasadiah yang selama tiga hari dilatih harus menemukan tempatnya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keluarga, pekerjaan, lingkungan, maupun aktivitas pembinaan kader. 

Kembara boleh selesai pada 25 Agustus. 

Tetapi pembinaan tidak boleh ikut selesai. 

Karena perjalanan terpanjang bukanlah perjalanan menaklukkan tanjakan Gunung Malang, melainkan perjalanan membentuk manusia yang terus bertumbuh—lebih kuat ruhiyahnya, lebih matang maknawiyahnya, lebih sehat jasadnya, dan semakin siap memberikan kontribusi. 

Dari jalan panjang Kembara, satu pesan dibawa pulang: latihan boleh berakhir, tetapi perjuangan untuk terus menjadi lebih baik harus terus berjalan.

Post a Comment

أحدث أقدم