Breaking News

Ramadhan Bulan Hemat dan Bulan Boros

PKSTangerang.com - Ramadhan telah hadir. Nuansanya sudah terasa. Tidak di kota tidak pula didesa. Tarhib Ramadhan bergaung diseantero negeri. Pawai Ramadhan, Bazar hingga bermacam cara menyambut datangnya bulan penuh berkah. Kecerian dan kegembiraan umat Islam menyambut datangnya Ramadhan sebuah fenomena positif

Sayangnya kegembiraan tersebut kadang dimaknai secara berlebihan dan tak sesuai dengan esensi bulan Ramadhan itu sendiri. Bulan Ramadhan menjadi bulan paling boros. Pengeluaran belanja harian menjadi lebih besar dari bulan biasanya. Padahal bila dihitung secara logika. Berpuasa seharusnya malah mengurangi jumlah belanja harian. Dari tiga kali waktu makan menjadi dua kali waktu makan. Sahur dan berbuka puasa. Kalaupun ada tambahan tajil seharusnya tidak membuat tambahan biaya yang terlalu besar.

Itu dari sisi makanan. Dari sisi pakaian dan aksesoris. Ini jauh lebih menyedot keuangan. Tunjangan hari raya (THR) habis tak bersisa malah kadang harus berhutang. Pakaian harus baru semua . Aksesoris seperti sandal, sepatu hingga tas juga harus baru. Pokoknya lebaran itu sangat spesial sehingga segala daya upaya dan keuangan habis dikeluarkan untuk satu hari itu saja. Tidak sah bila lebaran tidak pakai sesuatu yang baru.

Kalau mau dilihat dari sejarah . Satu syawal tak layak dijadikan hari berlebihan . Bukannya tidak boleh dirayakan dengan meriah. Tapi tidak dirayakan dengan pemborosan yang tidak berfaedah . Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tak pernah mencontohkan hal tersebut.Begitu pula para tabiin maupun ulama ulama terdahulu. Nuansa berlebihan disaat lebaran seperti budaya kapitalis. Dimana cinta dunia begitu kuat. Ibadah menjadi tidak terlalu penting kalah dengan persiapan menyambut lebaran.

Ramadhan hadir menyapa kita. Ruhiyah kita dilatih untuk masa 11 bulan yang akan datang. Ramadhan bulan menempa diri. Bulan dimana kita berlomba memperbanyak amalan amalan sunnah. Melipat gandakan tilawah Qur'an. Memperpanjang sholat malam . Menghiasi bibir kita dengat kalimat thoyibah. Alangkah meruginya kita bila Ramadhan kali ini kita tak mengisinya dengan amalan terbaik kita. Lalai dari kehidupan dunia yang fana dan melenakan. (Rush-Humas DPD)

Tidak ada komentar