Breaking News

Mewarisi Tradisi Pejuang

Kabtangerang.pks.id - Saat memasuki bulan suci ramadhan, semua orang memiliki impian untuk tekun beribadah. Berpuasa secara sempurna, mengkhatamkan Al Qur’an, mendatangi majelis ta’lim, menjalankan shalat tarawih dll. Namun, ada beberapa peristiwa yang akhirnya memaksa seseorang meninggalkan impiannya itu. Diantaranya adalah terjadinya bencana.

Mereka (para relawan) tergugah untuk ikut terjun digaris depan. Mulai dari mengevakuasi korban hingga memberikan terapi mental. Ada banyak hal yang harus dikorbankan, termasuk target capaian ibadah dibulan ramadhan. Namun, hal itu tidak mengurangi esensi perjuangan dan nilai derajat mereka disisi Allah. Mengapa bisa demikian?

Pertama, Mengejar Amalan Utama
Para pejuang tidak akan berpuas diri dengan amalan yang biasa. Jika ada pilihan amal yang lebih utama, mereka akan beralih untuk mengejarnya. Ambil contoh, kisah Abdullah ibnu Abbas ra yang tengah beri’tikaf di masjid nabawi. I’tikaf adalah amalan utama dimana seseorang akan memutuskan kontak dengan dunia luar untuk beribadah di masjid. Namun akhirnya dia memutuskan keluar masjid demi membantu hajat seseorang. 

Saat ada yang bertanya “Mengapa engkau keluar dari masjid? Bukankah engkau sedang i’tikaf?” dengan mantap Abdullah ibnu Abbas ra menjawab “Aku pernah mendengar rasulullah saw bersabda “Barangsiapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya dan berupaya sungguh – sungguh untuk memenuhi keperluan itu, maka hal itu lebih utama baginya ketimbang sepuluh tahun beri'tikaf”.

Abdullah ibnu Abbas ra mengambil keputusan yang jelas dan tegas. Dia memilih untuk keluar masjid sewaktu tengah beri’tikaf, demi membantu seseorang yang tengah bingung karena ditagih hutang. Setelah urusannya selesai, beliau kembali ke masjid untuk melanjutkan i’tikafnya. Jadi, menyingsingkan lengan baju demi membantu saudara yang kesulitan sudah dipraktekkan oleh para shahabat.

Kedua, Mewujudkan Kesungguhan Berjuang
Bisa beribadah ditanah suci (haramain) adalah impian semua orang. Baik di masjidil haram maupun masjid nabawi, sama – sama akan dilipatgandakan pahalanya, sesuai dengan keutamaannya masing – masing. Namun, itu semua tidak akan bisa menandingi pahala orang yang berjihad dijalan Allah.

Abdullah ibnul Mubarak adalah seorang ulama yang gemar berjihad. Dia berjuang dengan gagah berani digaris depan, tapi dengan mengenakan topeng. Sehingga banyak yang tidak mengenalinya, kecuali sangat sedikit. Pada tahun 170 Hijriyah, Abdullah ibnul Mubarak tengah berjuang di Tharsus. Dia dan para pasukan lainnya merasakan banyak kesulitan dan kesusahan. Dia lalu menulis surat kepada shahabatnya yang berada di Masjidil Haram, yakni Fudhail bin Iyyad. 

Saat membaca surat itu, Fudhail bin Iyyad langsung menangis tersedu. “Benar Abu Abdurrahman, dia telah menasehatiku”. Apakah isi surat Abdullah ibnul Mubarak itu? Ternyata sebuah syair. Isinya begini :

“Wahai hamba haramain, jika kamu melihat kami,
Maka kamu akan mengetahui ibadahmu main – main …”

Seolah, Abdullah ibnul Mubarak ingin membandingkan besarnya perbedaan amal antara mereka yang berjuang dimedan jihad dengan mereka yang bisa beribadah dengan nyaman di masjid. Hal ini perlu jadi renungan buat kita yang bermukim dirumah, agar bisa memahami keutamaan dan kedudukan mereka yang berjuang sebagai relawan bencana atau dimedan jihad.

Ketiga, Maju Ditengah Keterbatasan 
Meski bisa diantisipasi, namun umumnya manusia tidak siap saat bencana datang. Bisa karena intensitasnya melebihi prediksi, bisa karena peralatannya tidak bisa berfungsi dengan normal, bisa karena hambatan teknis dan administratif dll. Jangan ditanya masalah persiapan logistik, perlengkapan pendukung dll.

Meski dihadapkan pada kondisi serba kekurangan dan minim sarana, tidak membuat para pejuang mundur ke belakang. Mereka tetap maju dengan bertawakkal kepada Allah. Perang Badar tetap berlanjut meski kondisinya tidak berimabng. Perang kemerdekaan terus berjalan meski persenjataan minim. Mereka tidak berkecil hati, tidak pula mencari alasan untuk mundur. Intinya, the show must go on !

Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena dalam keseharian, para pejuang sudah membiasakan diri dengan berbagai kesulitan. Walaupun mereka sebenarnya juga mampu untuk hidup dengan nyaman. Mereka memang tidak ingin hidup dizona nyaman. Kondisi demikian membuat mereka siap diterjunkan kapan saja dan dimana saja. Karena nyaris tidak ada bedanya antara kehidupan mereka dirumah dengan kehidupan dimedan bencana atau medan jihad. 

Khatimah 
Para relawan yang berjuang diarea bencana, mungkin akan ketinggalan beberapa jenis ibadah dibanding kita yang bermukim dirumah. Tadarus Al Qur’annya tidak sebanyak kita, qiyamullailnya tidak sekhusyu’ kita, amalan dzikirnya kalah jauh dari kita dll. 

Tapi jangan sekali – kali memandang rendah kepada mereka. Karena mereka jelas memiliki banyak keutamaan disisi Allah disebabkan kiprah yang dilakukannya. Wallahu a’lam.

Eko Jun

Tidak ada komentar