Breaking News

Makna Kepahlawanan

Ilustrasi: Ketua Fraksi PKS DPR RI, Jazuli Juwaini bersama anak yaitm saat memberikan santunan di Tangerang Selatan beberapa waktu lalu.
KABUPATEN TANGERANG (12/11) - Para pejuang dan pendiri republik mengajarkan satu keyakinan yang kuat kepada rakyat Indonesia bahwa kemerdekaan harus diraih, direbut, dan diperjuangkan.

Tidak ada kemerdekaan tanpa perjuangan dan pengorbanan. Para pejuang bangsa dan pahlawan mengorbankan harta benda bahkan nyawanya untuk membebaskan republik ini dari belenggu penjajahan. Mereka mengobarkan semangat juang dan nasionalisme, menyatukan kekuatan yang dimiliki untuk secara bersama-sama mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Pengorbanan yang mereka lakukan akhirnya berbuah kemerdekaan yang bisa kita nikmati hingga saat ini. Jika setiap 10 November rakyat Indonesia memperingati Hari Pahlawan, peringatan tersebut sejatinya adalah peringatan tentang perjuangan dan pengorbanan. Apalagi sejarah 10 November 1945, terang menggambarkan bahwa kemerdekaan bangsa ini bukan diberi tapi direbut dengan mengusir penjajah (NICA yang datang kembali dengan membonceng sekutu).

Peristiwa sebelum 10 November juga menggambarkan betapa perjuangan itu membutuhkan pengorbanan. Resolusi Jihad 25 Oktober 1945 adalah pembakarnya dan kemudian kita menemukan kisah tentang pengorbanan ulama dan santri yang luar biasa. Jika kita refleksikan dalam kehidupan hari ini, pesan utama dari peristiwa sejarah tersebut adalah generasi bangsa jangan cuma ingat peristiwa atau tahu nama pahlawan tapi lupa pelajaran penting dari kepahlawanan yaitu kesediaan berjuang dan berkorban.

Hari ini siapa pun yang sedia berjuang dan berkorban untuk kepentingan negara ia layak disebut pahlawan. Pengorbanan ini penting untuk terus kita tumbuhkan di tengah tantangan dan problem kebangsaan yang semakin kompleks.

Tantangan dan Hambatan

Indonesia adalah negara besar dengan potensi yang juga luar biasa besar. Kata penyair, negeri ini adalah ”sepenggal (surga) firdaus yang terlempar ke dunia.” Secara geografis, Indonesia terdiri dari hampir 13.677 buah pulau yang tersebar dari pulau Sumatera hingga Papua. Garis pantainya terpanjang di dunia. Sementara demografi Indonesia adalah yang terbesar keempat di dunia dengan jumlah penduduk mendekati 260 juta jiwa.

Belum lagi kemajemukan suku bangsa, bahasa, agama, menjadikan Indonesia negara dengan tingkat pluralitas/kemajemukan terbesar di dunia. Realitas kebesaran Indonesia ini menjadi anugerah sekaligus beban. Bebannya adalah tidak mudah mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan serta merajut persatuan dan kesatuan di tengah-tengah kebinekaan yang demikian besar.

Dus, membangun Indonesia yang dicita-citakan yaitu masyarakat yang adil dan sejahtera tidaklah gampang dicapai. Ada banyak prasyarat untuk itu, butuh perjuangan dan tekad yang bulat dari segenap bangsa Indonesia. Alhasil hari ini kita baru tahap menyadari betapa besar potensi bangsa ini, tapi belum sampai tahap menjadikannya aktual (menjadi anugerah) bagi bangsa Indonesia. Tanah kita subur, ibarat kata ” tongkat dibuang jadi pohon”.

Kita terkenal sebagai negara agraris, tapi sejumlah produk pertanian masih impor, petani kita miskin. Kita negara kepulauan, laut kita luas, tapi ikan kita dicuri orang, nelayan kita tidak sejahtera. Kita kaya tambang dan sumber daya mineral, minyak, batu bara, bijih besi, hingga emas tapi belum banyak memberikan manfaat ekonomi yang signifikan buat rakyat kita.

Mengapa itu terjadi? Berkaca pada makna kepahlawanan, bisa jadi ini terjadi karena kita semua tidak punya semangat perjuangan dan pengorbanan yang kuat. Banyaknya masalah yang mendera bangsa ini dan belum aktualnya potensi besar yang dimiliki bangsa ini sedikit banyak terjadi karena lemahnya semangat juang dan pengorbanan di kalangan anak bangsa termasuk di kalangan pemimpin.

Perjuangan dan pengorbanan menjadi barang mahal jika sudah bertemu dengan ego, ambisi, kepentingan pribadi atau kelompok termasuk dalam mengelola negara ini. Semua maunya serba instan: mendapatkan keuntungan instan, mendapatkan pekerjaan instan, meraih jabatan atau kedudukan instan.

Akibatnya etos dan semangat perjuangan dan pengorbanan menjadi hal yang langka. Untuk itu, negara ini butuh pemimpin, tokoh, pengusaha, profesional, dan generasi muda yang siap berkorban mengatasi ego dan kepentingan pribadi dan kelompoknya demi mewujudkan Indonesia yang maju dan sejahtera. Itulah kunci kemajuan Indonesia.

Semangat Juang dan Pengorbanan

Semangat perjuangan dan pengorbanan mendorong sikap dan perilaku gotong royong sebagai pilar persatuan dan kesatuan. Ia mengesampingkan ego dan kepentingan pribadi/ kelompok. Sayangnya semangat itu saat ini mulai kikis. Hari ini, jujur harus kita akui, betapapun sebagai bangsa telah merdeka, tapi realitasnya kita masih terkaveling-kaveling dan terkotak-kotak dalam kepentingan pribadi, kelompok, golongan, partai dan seterusnya.

Kadang kala kita terlalu bersemangat mengedepankan ego sehingga lupa bahwa kita berjuang untuk Indonesia yang sama. Sebagai bangsa yang mewarisi potensi kebangsaan yang demikian hebat, sudah seharusnya kita kembali menapaki apa yang seharusnya untuk bangsa ini, dan jika ada seruan yang mewakili itu semua ia adalah: mari kita berlomba- lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) untuk memajukan Indonesia dengan perjuangan dan pengorbanan yang sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Tentu seruan itu haruslah berangkat dari kecintaan kita kepada negeri ini, berangkat dari ketulusan hati untuk mengabdikan diri pada Indonesia yang kita cinta. Tanpa motif itu, ia akan kehilangan makna dan elan vitalnya. Ketika kita berangkat dari cara pandang yang sama, maka tidak ada alasan bagi siapa untuk mengklaim republik ini, mengklaim kelompoknya paling berjasa, mengklaim partainya paling nasionalis, sambil memandang rendah dan sebelah mata pihak/kelompok lainnya.

Dengan semangat yang sama, tentu tidak akan ada saling tuduh, saling tuding, dan saling menyalahkan di antara anak bangsa. Sebaliknya, yang muncul adalah saling memuji, saling mendukung, dan saling menguatkan satu sama lain. Tentu bukan berarti tidak kritik sama sekali, tapi kritik disampaikan secara santun dan beradab. Tugas kita hari ini untuk menumbuhkan spirit kepahlawanan melalui kesediaan berjuang dan berkorban di lapangan masing-masing, tapi dengan satu tujuan: memajukan Indonesia.

Hal itu bisa dilakukan dengan berkorban bagi negara, sebagaimana layaknya para founding fathers bangsa ini telah lakukan dahulu kala. Berkorban untuk bangsa adalah melakukan hal positif dan membanggakan untuk bangsa ini. Berkorban adalah menyatakan bakti yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus dan ikhlas.

Indonesia bisa maju atau sejajar posisinya dengan bangsa-bangsa lain apabila negara ini dibangun atas pengorbanan sungguh-sungguh dari mereka yang berbuat untuk bangsa ini. Harapan itu sudah terlihat dengan banyaknya gerakan-gerakan yang muncul di masyarakat yang sebagian besar dimotori oleh para generasi muda.

Gerakan voluntary untuk menyebarkan inspirasi seperti Indonesia mengajar, Indonesia bangun desa, gerakan tangan di atas, gerakan bangun jembatan, serta gerakan-gerakan sejenis yang intinya menyebarkan semangat perjuangan dan pengorbanan untuk negeri. Di kalangan profesional lahir gerakan kewirausahaan, gerakan cinta produk Indonesia dan sebagainya.

Gerakan semacam ini semangatnya adalah kolaborasi dan kooperasi (gotong royong dan kesetiakawanan) dan mengesampingkan ego dan perbedaan kepentingan. Hanya dengan cara itulah kita bisa meneladani pahlawan dan mengaktualisasikan nilai kepahlawanan dalam dimensi dan ruang kekinian.

DR. Jazuli Juwaini, MA
Ketua Fraksi PKS DPR RI

Tidak ada komentar