Breaking News

Refleksi Hari Pahlawan “Sudahkah Kita Menghargai Jasa Mereka?”

Oleh: Amallah Mujahidah
PKS MUDA Kabupaten Tangerang


Sejarah pasti akan berulang dan kembali menampakkan wajahnya dalam bentuk yang berbeda. Dalam kisah, sosok, dan cerita sertasetting yang berbeda, namun masih dengan esensi dan pembelajaran yang sama. Karena memang itulah salah satu mengapa sejarah itu ada, sebagai wahana pembelajaran bagi kita.

Sejarah kita telah diperkosa, dilecehkan, dilenyapkan, dan dibunuh. Sejarah kita telah hancur oleh Snouck Hurgronje. Dalam sejarah, kita hanya dikisahkan bahwa Nusantara dan Melayu ini hanya pernah berjaya ketika Sriwijaya dan Majapahit berkuasa. Namun, tidak pernah dikisahkan bahwa kesultanan Islam Nusantara jauh melebihi keberhasilan Majapahit dan Sriwijaya. Termasuk sejarah soal aba Mohammad Natsir dan pak Sjafruddin Prawiranegara Rahimakumullaah yang seolah tenggelam dan atau ditutupi dari percaturan negeri ini. Mereka sering dicap sebagai pemberontak lantaran keterlibatannya dalam peristiwa besar PDRI dan PRRI. Sejatinya PDRI sebagai bukti untuk menyelamatkan NKRI saat Soekarno dan bung Hatta ditawan pada Agresi Militer Belanda II dan PRRI sebagai upaya untuk menyelamatkan NKRI yang terancam komunisme.

Tanggal 10 November dipilih sebagai hari memperingati hari pahlawan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, seperti kata Bung Karno “Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah.” Artinya bangsa yang tidak melupakan sejarah para pahlawannya. Para pahlawan rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan negara Indonesia. Tanpa jasa mereka, kita tidak bisa menjadi bangsa dan negara Indonesia seperti sekarang.

Kita harus mampu mengenang dan menghargai pejuangan serta pengorbanan mereka. Itu sebabnya sejarah bangsa ini telah mendokumentasikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah “hadiah” dari bangsa lain, melainkan hasil dari pengorbanan jiwa dan darah para syuhada. Mereka berjuang sejak periode ‘merebut kemerdekaan’ hingga periode kritis ketika harus ‘memertahankan kemerdekaan’ yang telah diproklamasikan.

Namun, sangat disayangkan mutu peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun, terutama generasi muda. Generasi muda sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Hari Pahlawan yang selalu kita peringati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang diwasiatkan oleh para pahlawan tersebut. Akan sangat ironi bila kita hanya memeringati tanpa mengambil tauladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kita kehidupan sehari-hari. Para pemuda tidak benar-benar mengisi kemerdekaan ini dengan belajar untuk membangun bangsanya.


Negeri kita sedang diwarnai kasus korupsi yang sudah mencapai stadium terakhir. Karena sudah melibatkan para pejabat tinggi dan yang paling menyedihkan sudah melibatkan para aparat penegak hukumnya sendiri. Di mana semestinya mereka memosisikan diri sebagai pemberantas korupsi. Namun, itu hanyalah sebuah ilusi belaka. Permasalahan bangsa yang begitu banyak, pelik, dan terkadang membingungkan, sangatlah bertentangan dengan semangat juang yang telah dikobarkan oleh para pahlawan. Mereka berjuang dari rimba belantara dengan tujuan untuk melakukan pembebasan bangsa ini dari tirani. Tirani kehidupan, tirani korupsi, tirani pembodohan, tirani kejahilan, dan sebagainya.

Dengan banyaknya problem bangsa ini membuktikan kita masih belum bisa menghargai para pahlawan bangsa ini. Diperlukan sosok-sosok masa depan yang memiliki sikap untuk membebaskan bangsa dari tirani. Keluar dari keterpurukan, keluar dari kebodohan, dan keterbelakangan. Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela melakukan apa pun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan.

Tidak ada komentar