Breaking News

header ads

Syahadatain: Asas Perubahan

Ilustrasi
PKSTangerang.com - Dua kalimat syahadat adalah fondasi perubahan individu maupun masyarakat. Lihatlah apa yang terjadi kepada bangsa Arab di masa lalu. Sebelum kedatangan Islam, mereka berada dalam kondisi jahiliyyah, yakni tidak memilikima’rifah (pengetahuan) tentang agama yang benar. Mereka tidak mengenal Sang Pencipta; tidak mengetahui bagaimana mengabdi kepada-Nya; dan tidak terbimbing dengan pola kehidupan yang teratur yang diridhai oleh-Nya.

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dengan perintah Kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami, dan sesungguhnya Kami benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. AsySyura: 52)

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat untukmu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 151)

Berawal dari kesadaran terhadap makna syahadatain, bangsa Arab kemudian berubah menjadi bangsa yang mulia—menjadi khairu ummah. Mereka menjadi pribadi-pribadi yang sadar akan eksistensi dirinya sebagai hamba-hamba Allah yang mengemban misi dalam kehidupannya.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Q.S. Ali Imran: 110)

Mereka menjadi pemegang kendali peradaban karena spirit La Ilaha Illa-Llah Muhammadurrasulullah senantiasa berkobar di dalam dada-dada mereka. Mereka menyeru seluruh umat manusia agar menghambakan diri kepada Allah Ta’ala dan menjalankan syariat-Nya seperti diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw.

Lihatlah bagaimana syahadatain telah merubah Umar bin Khattab, dari penentang dakwah menjadi pembela dakwah; merubah Mush’ab bin Umair dari sekedar pemuda perlente menjadi duta dakwah pembuka Madinah; merubah Salman Al-Farisi dari pemuda yang diperbudak menjadi tokoh terkemuka, dan masih banyak lagi contoh lainnya.

Lihatlah bagaimana syahadatain menanamkan izzah pada Rib’i bin Amir sehingga meskipun ia bukan seorang komandan, dengan mengendarai kudanya yang kerdil, berpakaian lusuh, berbaju besi dan bertopi baja, dengan lantang mampu berbicara di hadapan Rustum, komandan perang Persia pada waktu itu dengan ungkapan yang menggetarkan,

الله ابْتَعَثَنَا لِنُخْرِخَ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادَةِ العِبَادِ إِلىَ عِبَادَةِ اللهِ وَمِنْ ضِيقِ الدُّنْياَ اِلىَ سَعَتِهَا وَمِنْ جُوْرِ الأَدْيَانِ إِلىَ عَدْلِ الإِسْلاَمِ. (رواه ابن كثير)

“Allah telah membangkitkan kami untuk mengeluarkan siapa pun yang mau, dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan kepada Allah semata; dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia, dan dari keculasan agama-agama menuju keadilan Islam”.(HR. Ibnu Katsir).

Berawal dari syahadatain, dunia pernah menyaksikan tumbuhnya manusia-manusia unik dan sebuah masyarakat yang membangun peradaban atas dasar iman, yang geloranya menyebar ke seluruh penjuru bumi hingga hari ini.

Sumber: al-intima.com

Posting Komentar

0 Komentar