KABUPATEN TANGERANG — Semangat emansipasi tak lagi hanya sebatas cerita sejarah. Di tangan para perempuan PKS Kecamatan Cikupa, nilai-nilai perjuangan Raden Ajeng Kartini justru menjelma menjadi gerakan nyata yang menghidupkan ekonomi keluarga.
Memperingati Hari Kartini, Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (Bipeka) PKS Cikupa menggelar bazaar pemberdayaan ekonomi anggota pada Ahad, 19 April 2026. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa perempuan hari ini bukan hanya simbol, tetapi juga solusi.
Bertempat di halaman acara Halal Bihalal, samping kantor DPC PKS Cikupa, bazaar ini menghadirkan sekitar sepuluh pelaku usaha dari kalangan anggota perempuan. Beragam produk ditampilkan, mulai dari olahan makanan rumahan hingga hasil pertanian yang dikelola langsung oleh anggota.
Ketua Bipeka PKS Cikupa, Ela, mengungkapkan bahwa program ini lahir dari realitas yang dihadapi di lapangan.
“Banyak anggota kami memiliki produk, tapi masih terkendala pemasaran. Bahkan, dari data yang kami himpun, tidak sedikit yang masih masuk kategori mustahik zakat. Maka, Bipeka berkomitmen untuk membuka peluang usaha dan membantu meningkatkan taraf hidup anggota,” ujarnya.
Menurutnya, setiap momentum besar partai ke depan akan selalu diiringi dengan bazaar sebagai sarana promosi dan transaksi bagi anggota.
Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok, langkah ini menjadi jawaban konkret. Bagi para “Kartini masa kini”, berdagang bukan sekadar pilihan, tetapi strategi bertahan sekaligus bertumbuh.
Suasana bazaar pun terlihat hidup. Para peserta Halal Bihalal antusias berbelanja, menciptakan perputaran ekonomi yang terasa langsung. Rupiah demi rupiah mengalir, membawa kebahagiaan sederhana bagi para pelaku usaha kecil.
Lebih dari sekadar transaksi, kegiatan ini menegaskan peran penting perempuan dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga. Bahwa semangat Kartini hari ini bukan hanya tentang kesetaraan, tetapi juga tentang kemandirian dan kontribusi nyata.
Bipeka PKS Cikupa pun menegaskan komitmennya: menjadikan perempuan bukan hanya objek pembangunan, tetapi subjek utama yang menggerakkan perubahan—dari keluarga, untuk bangsa.


Posting Komentar