PKS Kabupaten Tangerang


SERANG, BANTEN – Sekitar 200 anggota madya PKS Kabupaten Tangerang meninggalkan rutinitas dan kenyamanan sehari-hari untuk mengikuti Kemah Bela Negara (Kembara) Jilid 2 di kawasan Gunung Malang, Serang, Banten, 23–25 Agustus. 

Tiga hari berada di alam terbuka itu bukan sekadar agenda berkemah. Bagi DPD PKS Kabupaten Tangerang, Kembara menjadi bagian dari proses pembinaan kader untuk membangun ketangguhan fisik, mental, sekaligus memperkuat komitmen dalam menghadapi tantangan kehidupan dan pengabdian di masyarakat. 

Ketua DPD PKS Kabupaten Tangerang, Sigit Parminto, mengingatkan peserta agar tidak melihat Kembara sebagai kewajiban yang harus dituntaskan semata. Ia justru mengajak seluruh peserta menikmati proses selama berada di lokasi. 

“Mukhoyam Kemah Bela Negara (Kembara) ini adalah bagian dari wasail tarbiyah yang tidak tergantikan. Maka kita harus berupaya untuk bisa mengikuti, untuk bisa menikmati prosesnya karena ini adalah bagian dari proses pembinaan kita.” 

Menurut Sigit, tantangan kehidupan dan dakwah ke depan tidak semakin ringan. Di sisi lain, sebagian peserta juga tidak lagi berada pada kondisi fisik seperti ketika masih muda. 

Namun, kondisi tersebut menurutnya bukan alasan untuk mengurangi semangat pengabdian. 

Sigit mengingatkan kembali perjalanan dakwah Rasulullah yang dimulai ketika memasuki usia 40 tahun ke atas. Karena itu, bertambahnya usia semestinya tidak identik dengan berkurangnya kontribusi. 

“Jangan buru-buru merasa sudah tua. Tapi jadikan ini sebagai pengingat bagi kita sekalian, semakin bertambah usia justru harus semakin bertambah semangat kita, motivasi kita untuk istiqomah di atas jalan dakwah.” 

Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting dalam Kembara Jilid 2. Para peserta tidak hanya ditantang untuk menyelesaikan rangkaian kegiatan, tetapi juga diajak melihat kembali bagaimana usia, pengalaman, dan kemampuan yang dimiliki dapat terus dikonversi menjadi kontribusi. 

Sigit juga meminta peserta menjalani seluruh proses dengan penuh suka cita. Menurutnya, rangkaian Kembara telah disiapkan dengan mempertimbangkan kondisi peserta yang berbeda dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. 

“Panitia sudah mengukur, panitia sudah menakar. Kondisi kita sudah berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dan itu sudah dipertimbangkan. Jadi enggak usah khawatir, ikuti saja prosesnya.” 

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi ketika peserta menghadapi kendala selama kegiatan. Menurutnya, banyak persoalan dapat diselesaikan ketika komunikasi berjalan dengan baik. 

“Apabila ada kendala tinggal dikomunikasikan. Karena seringkali permasalahan-permasalahan di kita itu tidak bisa kelar karena masalah komunikasi.” 

Bagi Sigit, cara peserta menjalani proses menjadi bagian penting dari keberhasilan Kembara. Dengan hati yang lapang dan pikiran yang tenang, tantangan yang dihadapi selama tiga hari diharapkan justru menjadi pengalaman yang memperkuat mental. 

“Kalau hatinya lapang, pikirannya tenang, semuanya dijalani, nanti kita akan keluar dari tempat ini sebagai orang-orang yang menang.” 

Lebih dari sekadar pengalaman berkemah, Sigit berharap peserta pulang membawa perubahan nyata. Kembara diharapkan menjadi titik pengingat bahwa pembinaan tidak berhenti ketika peserta meninggalkan Gunung Malang. 

“Kami sangat berharap antum sekalian pulang dari sini membawa semangat perubahan. Perubahan untuk menjadi lebih baik, perubahan untuk menjadi lebih sehat, perubahan untuk lebih kontributif terhadap tugas-tugas dakwah yang menanti kita yang begitu besar.” 

Ia kemudian mengingatkan bahwa semakin berat amanah yang dipikul dengan penuh komitmen, semakin besar pula nilai perjuangan yang menyertainya. 

“Pahala itu setara dengan beratnya beban yang kita pikul.” 

Karena itu, tantangan tidak seharusnya selalu dihindari. Justru melalui tantangan, seseorang ditempa menjadi lebih kuat dan lebih siap memikul amanah. 

Sigit juga menekankan bahwa pembinaan tidak hanya menyasar individu. Menurutnya, kekuatan seseorang dalam menjalankan peran sosial dan dakwah juga membutuhkan dukungan dari keluarga. 

Karena itu, ia mengajak para peserta turut mendukung pasangan agar memiliki semangat pembinaan yang sama. Baginya, perubahan yang lebih besar harus dimulai dari lingkaran terdekat. 

“Pekerjaannya besar, tapi pekerjaan besar itu harus dimulai dari setiap diri kita, harus beres dulu.” 

Pesan tersebut sekaligus menempatkan Kembara bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai momentum untuk kembali menjalani kehidupan dengan semangat yang baru. 

Tiga hari di Gunung Malang mungkin akan selesai. Tenda akan dibongkar, perlengkapan akan dibawa pulang, dan para peserta kembali kepada rutinitas masing-masing. 

Namun, harapannya bukan sekadar membawa pulang pengalaman. 

Ada semangat yang harus dibawa pulang. Ada kesehatan yang harus dijaga. Ada kontribusi yang harus dilanjutkan. Ada keluarga yang harus dikuatkan. Dan ada jalan dakwah yang harus terus ditempuh. 

Menutup sambutannya, Sigit mengajak seluruh peserta menjadikan Kembara sebagai momentum untuk memperbarui sekaligus menguatkan komitmen perjuangan. 

“Mari sama-sama kita jadikan momentum Kembara ini sebagai pengingat sekaligus penguat komitmen kita untuk terus istiqomah sampai ajal menjemput kita.”

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama