Breaking News

Mata Dakwah, Mata Kaderisasi

Ilustrasi
PKSTangerang.com - Dakwah itu, sejatinya merupakan naluri orang-orang mukmin. Naluri yang lahir dari keyakinannya terhadap nilai-nilai Islam. Naluri yang hadir dari ketenteraman kedamaian hatinya pada ajaran Islam. Naluri yang menyergap seluruh dinding hati, karena ia begitu yakin dengan kebenaran Al-Quranul Karim, hadits Rasulullah SAW serta seluruh bangunan Islam yang bisa membawa masyarakat di manapun untuk hidup dalam kebaikan. Bagi orang-orang beriman, naluri dakwah itu muncul begitu saja secara otomatis, dari suasana hati yang disuburkan oleh rasa senang dan gembira oleh berbagai ibadah, juga akal pikiran yang dicerahkan oleh pemahaman yang semakin mendalami keimanan.

Ya, tingkat keimanan seseorang, memiliki korelasi kuat terhadap intensitas dakwah. Jika keimanan seseorang bagus, maka aktivitas dakwahnya juga akan baik. Amar ma’ruf, nahyul munkar dan keimanan, itu tiga syarat khairu ummah yang ada dalam firman Allah surat Ali Imran ayat 110.

Saudaraku,

Keimanan kita berbicara melalui sejauh mana kita mendakwahkan nilai-nilai yang kita imani itu kepada orang lain. Keimanan kita terjawantah pada bagaimana kita berusaha menunjukkan orang lain untuk juga merasakan kebahagiaan, kedamaian, ketenteraman, keyakinan hati, sebagaimana yang kita rasakan. Keimanan kita tercermin pada usaha kita untuk merekrut orang lain untuk bersama-sama menjalin persaudaraan yang kuat, dan membangun masyarakat hidup dalam kebaikan Islam. Keimanan kita terlihat pada seberapa besar peran kita dalam dakwah secara integral untuk mengajak sebanyak-banyak masyarakat mewujudkan indahnya Islam dalam kehidupan.

Iman adalah bahasa hati. Dan mata adalah jendela apa yang ada di dalam hati. Dengan hanya melihat mata dan pandangan seseorang, biasanya kita bisa mengetahui sifat si pemilik mata. Ada mata culas, mata jujur, mata peragu, mata penakut, mata angkuh, mata tulus, mata orang yang tak berpendirian, mata pemberani, mata sedih, mata gagah, mata tamak, mata dengki, mata penipu, mata yang kehilangan jiwa, mata yang penuh kerinduan, dan sebagainya. Jika hati kita penuh dengan rasa damai atas keimanan, maka itu juga yang akan terlihat dalam mata dan air muka. Jika jiwa kita terpatri kuat keyakinan terhadap dakwah, maka itu juga yang tampil dalam mata yang penuh peduli, perhatian, sayang, kepada siapapun yang sesungguhnya kita ingin menuntun mereka dalam dakwah.

Saudaraku,

Mata dakwah kita, selalu melihat dari sudut bagaimana dakwah bisa kita sampaikan kepada orang lain. Mata dakwah, selalu memandang dari arah bagaimana bisa menjalin komunikasi dengan orang lain, agar bisa memiliki keimanan lebih baik. Mata dakwah kita adalah mata kaderisasi, yang merupakan cermin dari keyakinan hati dan pikiran kita, selalu mencari celah untuk bisa masuk ke dalam hati banyak orang, dan menjadikan mereka bagian dari barisan keimanan yang kuat, dan terkader untuk memperkuat pengaruh dakwah di masyarakat.

Saudaraku,

Itulah mata dakwah. Itulah mata kaderisasi kita.

Saudaraku,

Ternyata, disadari atau tidak, ada rentang bertahun-tahun kita telah lalai dengan sens mata dakwah, mata kaderisasi, seperti ini. Mata dakwah, mata kaderisasi, yang dahulu secara otomatis menjadikan mata kita menyeleksi orang-orang yang dianggap sangat baik bila memperkuat barisan dakwah. Mata dakwah, mata kaderisasi, yang selama bertahun-tahun dahulu pernah kita miliki untuk berusaha mempengaruhi orang-orang sekitar untuk bersimpati pada perjuangan dakwah. Mata dakwah, mata kaderisasi kita yang dahulu, setelah iradah Allah SWT pastinya, menjadikan terbentuknya basis rekrutmen ribuan bahkan jutaan orang untuk menjadi bagian dari usaha membumikan keindahan Islam. Tentu saja, sekaligus menjadi benteng penghalang berbagai usaha orang-orang yang ingin merusak kehidupan dan menjauhkan Islam dari kehidupan.

Saudaraku,

Adakah mata dakwah dan mata kaderisasi kita dahulu itu, kita miliki saat ini? Mari lihat sedikit episode mata kaderisasi dari pengalaman Abbas As-Sisi, dalam buku “Ath-Thariq ilal Quluub” (Bagaimana Menyentuh Hati).

“Pada tahun 1948 M. saya dipindahkan dan Iskandaria ke Asyuth. Suatu pagi, ketika saya berangkat ke tempat kerja, di tengah jalan saya bertemu dengan seorang pemuda berseragam sekolah menengah atas. Saya tertarik dengan pemuda itu, lalu dengan dorongan nurani dan perasaan itu saya mengutarakan kepada ikhwah dengan harapan agar pemuda itu dapat diajak masuk ke dalam barisan dakwah. Mereka semua tampak kaget dan berkata, “Pemuda itu dari keluarga kaya dan terhormat, bapaknya seorang tokoh di Asyuth ini.” Saya menjawab, “Apakah hanya rakyat kecil saja yang berhak masuk ke dalam jamaah kita? Bukankah Rasulullah pernah berdoa, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan satu di antara dua orang yang Engkau sukai: Umar bin Khaththab atau Amr bin Hisyam?'” Mereka tertawa dan berkata, “Lantas bagaimana caranya?” Saya berkata, “Ini baru jawaban yang tepat. Tidak mudah bagi seseorang untuk melangkah kepada orang lain tanpa adanya suatu alasan. Oleh karena itu, harus direncanakan dengan matang dan melalui perantara yang lebih dekat dan segi tsaqafah dan umurnya.” Program ini berjalan selama enam bulan dan setelah itu pemuda yang kami maksud tadi sudah menjadi bagian dari kami. Inilah makna dari syiar: “dakwah adalah seni, bersabar dalam berdakwah adalah jihad”.

Saudaraku,

Ada lagi kisah unik tentang mata dakwah, mata kaderisasi yang disampaikan Abbas As-Sisi. Beliau menceritakan,

“Pada suatu hari kami berkunjung ke salah seorang tokoh dakwah. Ketika kami duduk di ruang tamu, datanglah anak laki-lakinya yang sedang duduk di bangku sekolah menengah atas dan mengucapkan salam. Tatkala mendekat kepada saya, saya memandangnya dengan tersenyum dan mengatakan kepadanya beberapa kalimat. Ketika ia keluar dan ruang tamu, bapaknya merasakan ada sesuatu yang telah terjadi. Lalu ia berkata kepada saya, “Wahai saudara Abbas, saya mohon ia jangan dimasukkan terlebih dahulu, tunggulah sampai la selesai dan bangku sekolah menengah atas.” Saya berkata, “Ini adalah pertama kali saya melihatnya. Kami akan menunggu sampai la lulus dari sekolah menengah atas.”

Akan tetapi, beberapa kalimat yang didengarnya pada perjumpaan itu menggugah perasaan hati anak itu. Beberapa hari kemudian anak itu datang kepada kami dengan membawa hati yang bersih dan semakin kuatlah hubungan persaudaraan antara kami. Dan dia menjadi bagian dari pendukung barisan dakwah. “

Saudaraku,

Kita pasti punya pengalaman tentang mata dakwah, tentang mata kaderisasi yang pernah kita miliki, dahulu…

M. Lili Nur Aulia, S. Ag.
Ketua Kaderisasi DPW PKS Banten

Sumber: dakwatuna.com

Tidak ada komentar