Breaking News

Mewarisi Hilful Fudhul | Catatan Pilkada 2015

Ilustrasi
PKSTangerang.com - Luar biasa perang pemikiran yang diarahkan pada umat Islam oleh sebagian dari saudaranya sendiri. Sampai ada status ajakan golput karena Allah. Sejenak, ada baiknya kita berkaca dari peristiwa Hilful Fudhul, agar situasinya lebih mudah dipahami.

Semangat Berpartisipasi
 
Kala itu, Muhammad masih remaja tapi terlibat dlm peristiwa “Perjanjian yang mulia” ditempat Abu Jad’an. Ini menandakan, sejak muda Rasulullah tertarik dengan masalah keummatan. Padahal, kala itu masih zaman jahiliyah dimana kemaksiatan dan dekadensi moral terhampar dan menjadi praktek lumrah.

Karena itu, sedini mungkin para pemuda harus diarahkan pada perkumpulan dan ajakan yang mulia, seperti halnya ajakan untuk membangun bangsa, memperbaiki masyarakat, menegakan keadilan maupun pembelaan kepada kaum yg lemah. Bukan malah diajak untuk apatis dan bersikap pasif sebagai penonton.

Konsensus Kebaikan

Rasulullah bersepakat untuk menegakkan “Perjanjian yang mulia” meski inisiatornya orang musyrik, dalam sistem sosial jahiliyah, dan point perjuangannya terbatas. Betul bahwa saat itu beliau belum menjadi nabi. Tapi beliau menegaskan saat mengenang peristiwa itu “Andai Aku diundang untuk persekutuan tersebut demi Islam, niscaya aku akan mendatanginya”. Beliau lebih konsen dengan substansinya dan tidak mempermasalahkan apa sistem politik yang menaungi persekutuan itu.

Pelajarannya sangat dalam: dalam struktur masyarakat yang rusak sekalipun, disana ada orang baik. Sebagaimana dalam istananya fir’aun sekalipun, ada orang beriman. Menihilkan potensi kebaikan mereka adalah tindakan yang salah kaprah, tidak mengikuti manhaj dakwah nabi. Dan rasulullah mendukung persekutuan itu, meski beliau hanya menjadi peserta biasa, bukan deklarator atau pemimpinnya.

Semangat perjuangan yang dicanangkan adalah melawan kezhaliman dan membela yang lemah. Itu saja. Dan itu disepakati oleh Muhammad yang masih remaja. Beliau tidak menambahkan tambahan agenda menghapus riba, menghancurkan berhala, melarang khamr, menghapus tradisi membunuh bayi perempuan dan lain lain. Jadi, bersepakat untuk menegakkan satu jenis kebaikan bagi umat itu sudah cukup. Misalnya, memilih pemimpin muslim sebagaimana perintah Al Qur’an. Tidak harus ditambahkan berbagai macam sarat tambahan yang diluar kapasitas dan kemampuan kita.

Khatimah

Rabu, 9 Desember 2015 kita dihadapkan pada pilkada serentak. Ada kandidat dan kontestan yang bertekad untuk memperbaiki negeri, menghadirkan kemaslahatan dan menebar kebajikan. Tentu sebatas kemampuan yg dimilikinya. Mari kita sambut seruannya dan dukung perjuangannya. Dan buktikan, kita mewarisi semangat hilful fudhul yang dulu pernah dilakoni oleh nabi Muhammad saw. Bukankah kita berkewajiban untuk ittiba kepada nabi?
 
Eko Junianto

Tidak ada komentar