Breaking News

header ads

Bandel Saat Sekolah, Ini Kenangan Fahri Hamzah tentang Gurunya

Fahri Hamzah
PKSTangerang.com - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengaku bandel saat menjalani masa pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.

Fahri, yang menempuh jenjang pendidikan di SD, SMP, dan SMA Muhammadiyah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, kerap mendapat hukuman dari guru karena kenakalannya.

"SD sampai SMP masih kena pukul," kata Fahri kepada Kompas.com, Selasa (24/11/2015).

Sosok yang paling sering memarahi Fahri adalah Mala, seorang guru matematika. Menurut Fahri, berbagai tindakannya kerap membuat Mala marah, mulai dari telat mengikuti pelajaran di kelas hingga bercanda saat upacara bendera.

"Kalau di kampung kan begitu, dipukul pakai kayu, pakai papan," kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini.

Meski kerap dimarahi, Fahri tidak pernah menaruh rasa benci, apalagi dendam kepada Mala. Dia justru melihat bentuk marah gurunya itu sebagai tanda cinta dan kasih sayang.

Fahri pun mengaku sampai saat ini masih sering bertemu Mala dan beberapa guru-guru lainnya saat pulang ke Sumbawa. Kesejahteraan mereka masih memprihatinkan, tak jauh berbeda dibanding saat ia bersekolah dulu.

Ia mengaku kerap memberikan bantuan finansial kepada mereka. Fahri menggambarkan kehidupan guru-gurunya di Sumbawa layaknya seperti guru-guru pada film Laskar Pelangi. Dengan gaji dan sarana prasarana yang minim, para guru tetap berjuang sekuat tenaga untuk mendidik murid mereka hingga sukses.

"Waktu sekolah gaji bulanan guru itu Rp 7.500 dan itu jarang sekali dibayar. Itu sebabnya saya sekarang secara pribadi membantu guru-guru saya agar mereka punya posisi lebih baik," ujar dia.

Di sisi lain, sebagai pejabat legislatif, Fahri mengaku terus mengupayakan agar guru di pelosok desa mendapatkan kehidupan yang lebih layak.

Sekretaris Koalisi Merah Putih ini mengatakan, ia pernah mengusulkan ke Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan agar dana sebesar 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara dapat dimaksimalkan untuk kesejahteraan guru. Misalnya, dana tersebut bisa dipakai untuk mengangkat guru honorer sebagai pegawai negeri sipil.

Dana tersebut juga bisa digunakan untuk mengirim sejumlah guru berprestasi untuk menunaikan ibadah haji.

"Negara harus investasi besar-besaran kepada guru. Itu kalau kita ingin menyelamatkan pendidikan dan peradaban," kata Fahri. 
 
Sumber: Kompas.com

Posting Komentar

0 Komentar