PKS Kabupaten Tangerang


Ada perjalanan yang kita tempuh dengan kaki. Ada perjalanan yang kita tempuh dengan hati. Dan ada perjalanan yang membuat keduanya bertemu: kaki yang lelah, tetapi hati yang semakin kuat. Tiga hari di Gunung Malang mengajarkan saya bahwa manusia tidak menjadi kuat karena hidup selalu mudah. Manusia menjadi kuat karena ia berkali-kali memilih untuk tidak menyerah.

Saya datang sebagai panitia yang bertugas meliput. Kamera di tangan, baterai harus penuh, memori harus cukup, setiap momen harus tertangkap. Awalnya saya pikir tugas saya hanya merekam perjalanan orang lain. Ternyata saya keliru. Selama tiga hari, kamera memang merekam peserta, tetapi mata saya merekam sesuatu yang jauh lebih dalam: semangat manusia ketika diuji.

Jumat dimulai dengan barisan. Upacara pembukaan, kemudian materi kepemimpinan dari Ketua DPW PKS Banten, Ustadz Najib Hamas, disusul materi dari Anggota DPR RI Ustadz Habib Idrus Salim Al-Jufri. Dari balik kamera, saya melihat wajah-wajah yang berbeda usia dan latar belakang, tetapi berdiri dalam satu barisan dengan semangat yang sama. Saat itu saya berpikir, mungkin inilah kekuatan sebuah jamaah: banyak orang dengan kemampuan yang berbeda, tetapi mau berjalan menuju arah yang sama.

Kemudian tubuh mulai ditempa. Latihan fisik bela diri. Keringat jatuh, napas memburu, tubuh bergerak melampaui kenyamanan. Di situ saya teringat: dakwah juga demikian. Kita tidak bisa berharap dakwah selalu nyaman. Ada hari ketika kita disambut, ada hari ketika kita ditolak. Ada binaan yang datang dengan semangat, ada pula yang perlahan menjauh. Tetapi seorang kader tidak diukur ketika semuanya mudah. Ia diuji ketika tidak ada yang bertepuk tangan.

Sabtu pagi, materi kepanduan dari Bidang Kepanduan dan Bela Negara DPW PKS Banten menjadi bekal sebelum peserta bergerak menuju tantangan berikutnya. Lalu datang instruksi: moving. Pindah camp. Tiga sampai empat kilometer menuju Sawah Girang. Seluruh peserta berjalan membawa perlengkapan masing-masing.

Di sinilah saya mulai benar-benar merasakan Kembara. Sebagai peliput, saya tidak mungkin hanya berdiri di satu tempat dan berharap mendapatkan cerita. Saya harus ikut berjalan, mengejar rombongan, berhenti mengambil gambar, kemudian berlari mengejar lagi. Dan sepanjang perjalanan itu saya melihat banyak hal yang tidak tertulis dalam rundown: ada yang membantu temannya, ada yang menunggu yang tertinggal, ada yang menyemangati ketika langkah mulai berat.

Bukankah membina juga seperti itu? Kita tidak bisa memaksa semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama. Ada binaan yang cepat tumbuh, ada yang membutuhkan waktu. Ada yang hari ini bersemangat, besok melemah. Ada yang hampir sampai, lalu berhenti. Maka seorang pembina harus belajar satu seni: menunggu tanpa berhenti berjalan.

Kita berjalan ke depan, tetapi sesekali menoleh ke belakang. Bukan karena kita ragu dengan tujuan, tetapi karena kita ingin memastikan tidak ada saudara kita yang tertinggal. Sebab dakwah bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai. Dakwah adalah perjalanan untuk memastikan semakin banyak orang menemukan jalan kebaikan.

Sesampainya di Sawah Girang, outbound dimulai. Ada teriakan, tawa, keringat, kegagalan, dan keberhasilan. Kelompok saling memberi semangat. Di sana saya melihat bahwa kekuatan sebuah kelompok bukan ditentukan oleh siapa yang paling hebat, tetapi oleh bagaimana mereka memperlakukan anggota yang sedang kesulitan. Kita tidak membutuhkan manusia-manusia yang merasa paling hebat. Kita membutuhkan manusia yang mau saling menguatkan.

Malam semakin larut. Tubuh semakin berat. Tetapi Kembara belum selesai. Dan justru di titik seperti inilah seseorang mulai mengenal dirinya sendiri. Ketika tenaga masih penuh, mudah mengatakan siap. Tetapi ketika tubuh lelah, mata mengantuk, dan kaki mulai berat, di situlah komitmen benar-benar diuji.

Kemudian datang Minggu dini hari. Pukul 02.00 panitia membangunkan peserta. Gelap. Dingin. Wajah-wajah masih mengantuk. Tubuh belum sepenuhnya pulih. Tetapi perlengkapan kembali diangkat. Barisan kembali bergerak menuju camp pertama di Gunung Malang. Tiga sampai empat kilometer lagi. Jalur menurun, memanjang, dikelilingi semak belukar.

Saya kembali membawa kamera. Tetapi kali ini rasanya berbeda. Tidak banyak cahaya. Tidak banyak suara. Hanya langkah kaki dan rombongan yang bergerak dalam gelap. Dan di tengah perjalanan itu saya merasa Kembara sedang berbicara kepada kami tanpa kata-kata: beginilah perjuangan.

Tidak selalu terang. Tidak selalu mudah. Tidak selalu kita tahu apa yang ada di depan. Tetapi kita tetap melangkah karena kita percaya kepada tujuan. Dan karena kita tahu, berhenti bukan pilihan.

Saya berjalan sambil membawa kamera, tetapi kali ini saya merasa sedang membawa sesuatu yang lebih berat: sebuah kesadaran bahwa dakwah membutuhkan orang-orang yang tahan berjalan dalam gelap. Membutuhkan UPA yang tidak mudah menyerah mencari binaan. Membutuhkan pembina yang tidak bosan mengetuk pintu. Membutuhkan kader yang tidak hanya pandai berbicara tentang perjuangan, tetapi mau membayar harga perjuangan itu dengan waktu, tenaga, pikiran, bahkan kenyamanan dirinya.

Sebab kita sering ingin melihat hasil dakwah dengan cepat. Padahal Allah tidak pernah meminta kita menguasai hasil. Kita diminta beramal. Kita menanam, Allah yang menumbuhkan. Kita mengajak, Allah yang memberi hidayah. Kita membina, Allah yang menentukan perubahan hati.

Karena itu, jangan berhenti hanya karena satu binaan belum berubah. Jangan berhenti hanya karena satu ajakan ditolak. Jangan berhenti hanya karena satu kelompok belum tumbuh. Teruslah mengetuk. Barangkali pintu itu belum dibuka hari ini. Tetapi kita tidak pernah tahu kapan Allah membukanya.

Ustadz Sigit Parminto (Ketua DPD PKS Kabupaten Tangerang) dalam penutupan Kembara mengingatkan agar kegiatan ini tidak berhenti sebagai rutinitas tahunan. Tiga hari harus menjadi penguat komitmen untuk terus istiqomah di jalan dakwah. Dan bagi saya, inilah ujian sebenarnya: bukan apakah kita kuat selama tiga hari di Gunung Malang, tetapi apakah kita masih kuat tiga bulan setelah pulang.

Apakah UPA masih mencari binaan? Apakah pembina masih menghubungi binaannya? Apakah kita masih datang ketika tidak diminta? Apakah kita masih mengajak ketika tidak mendapat respons? Apakah kita masih hadir ketika semangat sudah tidak seperti saat Kembara?

Di situlah Kembara yang sesungguhnya.

Kembara bukan tiga hari. Kembara adalah perjalanan hidup. Dari diri sendiri menuju perbaikan diri. Dari keluarga menuju keluarga yang lebih baik. Dari satu binaan menuju binaan berikutnya. Dari satu kebaikan menuju kebaikan yang lebih luas. Dan pada akhirnya, dari satu generasi menuju generasi yang melanjutkan perjuangan.

Saya mematikan kamera setelah tiga hari itu. Tetapi saya tidak ingin mematikan semangat yang saya lihat selama tiga hari. Saya ingin membawanya pulang. Ke rumah. Ke pekerjaan. Ke lingkungan. Ke aktivitas pembinaan. Ke medan dakwah.

Karena saya akhirnya mengerti: kita tidak dikirim ke Kembara untuk belajar bagaimana bertahan hidup di alam. Kita sedang belajar bagaimana bertahan dalam perjuangan.

Kita sedang belajar bahwa lelah bukan alasan untuk berhenti. Gelap bukan alasan untuk takut. Jarak bukan alasan untuk mundur. Penolakan bukan alasan untuk menyerah. Dan usia bukan alasan untuk meninggalkan dakwah.

Kita hanya perlu terus berjalan. Satu langkah, kemudian satu langkah lagi. Membina satu orang, kemudian satu orang lagi. Menguatkan satu hati, kemudian satu hati lagi. Sampai suatu hari kita menyadari bahwa langkah kecil yang kita anggap tidak berarti ternyata telah menjadi sebuah perjalanan besar.

Tiga hari itu akhirnya selesai. Tenda dibongkar. Camp ditinggalkan. Kamera dimatikan. Tetapi semangat tidak boleh ikut pulang dalam keadaan padam.

Semangat UPA harus tetap menyala. Semangat membina harus terus hidup. Semangat berdakwah harus terus bergerak.

Sebab kita bukan sedang mencari siapa yang paling kuat berjalan. Kita sedang menyiapkan siapa yang akan terus berjalan ketika kita sudah tidak mampu lagi.

Dan mungkin, itulah kepemimpinan yang paling hakiki: bukan sekadar menjadi orang yang berjalan paling depan, tetapi memastikan setelah kita berhenti, masih ada generasi yang meneruskan langkah perjuangan.

Kembara selesai. Tetapi perjalanan dakwah baru dimulai.


Tangerang, 11 Agustus 2026
Komdigi PKS Kabupaten Tangerang

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama