KABUPATEN TANGERANG – Kalau mendengar kata petani, mungkin yang terbayang adalah sawah luas, cangkul, lumpur, dan panas-panasan di bawah matahari. Tapi zaman sudah berubah. Bertani hari ini bisa dimulai dari halaman rumah, bahkan dari sebuah tong dan galon.
Gagasan sederhana itulah yang coba dibawa Sekolah Tani, Ternak dan Nelayan (STTN) BPPN PKS Kabupaten Tangerang. Bukan sekadar pelatihan sehari, STTN dirancang sebagai ruang belajar bagi kader dan masyarakat untuk mengenal dunia pertanian, peternakan, perikanan sekaligus melihatnya sebagai peluang ekonomi.
Batch pertama STTN digelar di Gucang Farm, Kampung Pinang, Tigaraksa, Sabtu (19/9/2026). Pesertanya datang dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tangerang. Mereka tidak hanya duduk mendengarkan teori, tetapi juga dikenalkan dengan praktik yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: budidaya lele dalam gentong dan penanaman serai di lahan terbatas.
Menariknya, konsep ini menjawab satu persoalan yang sering muncul di wilayah perkotaan dan perumahan: “Mau bertani, tapi nggak punya lahan.”
Jawabannya ternyata sederhana. Tidak harus punya sawah berhektare-hektare. Dengan kreativitas, lahan terbatas pun bisa dimanfaatkan. Gentong bisa menjadi kolam lele. Galon bisa menjadi media tanam. Halaman rumah bisa berubah menjadi ruang produksi pangan.
Di sinilah STTN mencoba membawa cara pandang baru. Pertanian tidak harus selalu identik dengan pekerjaan orang tua di desa. Anak muda pun bisa masuk ke sektor ini dengan pendekatan yang lebih modern, praktis dan berorientasi bisnis.
Ketua BPPN PKS Kabupaten Tangerang, Helmi Herlambang, mengatakan STTN memang tidak dirancang berhenti pada kegiatan pelatihan. Ada konsep konsolidasi dan penguatan kelompok yang ingin dibangun dari tingkat kecamatan, ranting hingga RW.
Artinya, peserta yang datang hari ini diharapkan tidak berhenti sebagai peserta pelatihan. Mereka bisa menjadi penggerak yang kemudian mengajak orang lain untuk membentuk kelompok produktif di lingkungannya.
Yang lebih menarik, konsepnya tidak berhenti di urusan produksi. Pasar juga mulai dipikirkan sejak awal.
Salah satu contohnya adalah budidaya serai. Helmi menyebut pihaknya telah mendapatkan kerja sama dengan perusahaan yang memiliki kebutuhan hingga dua ton serai per minggu. Dengan begitu, peserta tidak hanya diajarkan bagaimana menanam, tetapi juga mulai diperkenalkan dengan pertanyaan yang jauh lebih penting dalam bisnis: setelah panen, mau dijual ke mana?
Ini yang membuat sekolah tani menjadi menarik bagi generasi muda. Karena bertani bukan hanya soal menanam dan memanen. Ada perencanaan, produksi, kualitas, distribusi, pemasaran, hingga membangun jaringan pembeli.
Ketua DPD PKS Kabupaten Tangerang, Sigit Parminto, berharap program tersebut dapat menjadi bagian dari gerakan ketahanan pangan sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi kader dan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di kawasan dengan lahan terbatas.
Sementara Anggota DPRD Provinsi Banten dari Fraksi PKS, Abdul Rohman, melihat STTN juga memiliki fungsi sebagai ruang kaderisasi dan peningkatan ekonomi. Jadi, belajar bertani di sini bukan hanya belajar tentang tanaman atau ikan, tetapi juga belajar membangun kemandirian.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan sekadar bagaimana membuat orang mau bertani. Tantangannya adalah bagaimana membuat generasi muda melihat sektor pangan sebagai peluang masa depan.
Karena kebutuhan pangan tidak pernah berhenti. Orang akan selalu makan. Pasar akan selalu membutuhkan hasil pertanian, peternakan dan perikanan. Yang berubah adalah cara memproduksinya, cara memasarkannya dan cara generasi muda melihat peluang tersebut.
Mungkin dari satu gentong kecil hari ini akan lahir satu kelompok usaha. Dari satu kelompok bisa tumbuh menjadi jaringan petani muda. Dari halaman rumah bisa berkembang menjadi usaha bersama.
STTN baru memulai langkah pertamanya. Tapi gagasannya jauh lebih besar dari sekadar pelatihan: menanam keterampilan, membangun kelompok, membuka pasar, dan perlahan melahirkan generasi muda yang melihat pangan bukan hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga sebagai peluang.
.jpeg)
Posting Komentar