SERANG – Tiga hari mengikuti Kemah Bela Negara (Kembara) di Gunung Malang, Kabupaten Serang, Banten, tidak boleh berhenti sebagai pengalaman di alam terbuka. Ketua DPD PKS Kabupaten Tangerang, Sigit Parminto, justru mengingatkan bahwa tantangan terbesar seorang kader setelah pulang adalah membawa nilai-nilai yang dipelajari ke dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah keluarga.
Pesan tersebut disampaikan Sigit dalam amanat penutupan Kembara DPD PKS Kabupaten Tangerang, di Gunung Malang, Serang, Ahad (9/8/2026).
Menurut Sigit, seseorang tidak cukup hanya dikenal baik di lingkungan masyarakat. Ia juga harus mampu menjadi teladan bagi keluarganya sendiri.
“Jangan sampai kemudian anak-anak kita mengalami sebagaimana kebanyakan orang fatherless, gak punya ayah. Punya ayah tapi seolah-olah gak punya ayah,” ujar Sigit.
Bagi Sigit, kehadiran orang tua, khususnya ayah, memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi. Anak-anak tumbuh di tengah lingkungan dan arus informasi yang semakin kuat, sehingga keteladanan orang tua menjadi semakin penting.
“Kehadiran orang tua, lebih khusus ayah, menjadi satu hal yang tidak boleh dilupakan.”
Ia menegaskan, perjuangan membangun masyarakat yang baik tidak bisa dilepaskan dari bagaimana seseorang membangun keluarganya sendiri. Anak-anak membutuhkan bukan hanya nasihat, tetapi juga contoh nyata dari orang tuanya.
“Pasangan kita, anak-anak kita, butuh keteladanan dari diri kita masing-masing. Jangan sampai kemudian orang lain hormat, respect dengan kita, tapi anak kita tidak respect kepada ayahnya.”
Pesan tersebut menjadi refleksi menarik di penghujung Kembara. Setelah tiga hari peserta ditempa dengan berbagai aktivitas, Sigit mengajak mereka tidak hanya membawa pulang perlengkapan dan kenangan, tetapi juga membawa perubahan nyata ke rumah masing-masing.
Ia juga mengingatkan bahwa perjuangan tidak semakin mudah seiring bertambahnya usia. Justru dibutuhkan lebih banyak alasan untuk tetap berkontribusi dan memberikan manfaat.
“Harusnya malah sebaliknya. Seribu satu alasan untuk tetap istiqomah bersama dakwah.”
Dalam konteks yang lebih luas, Sigit memandang setiap orang memiliki ruang untuk memberikan kontribusi. Bahkan perubahan besar dapat dimulai dari satu orang yang berhasil diajak menuju kehidupan yang lebih baik.
“Satu orang saja yang bisa kita ajak lebih baik dari dunia seisinya.”
Karena itu, Kembara menurut Sigit bukanlah garis akhir. Tiga hari di Gunung Malang hanyalah sebuah jeda untuk memperkuat komitmen sebelum kembali menghadapi kehidupan nyata.
“Jadikan selama tiga hari di sini menjadi pengingat sekaligus penguat komitmen kita untuk terus berusaha istiqomah di atas jalan dakwah sampai ajal menjemput kita.”
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pembinaan bukan seberapa lelah seseorang saat menjalaninya, tetapi seberapa besar perubahan yang ia bawa ketika kembali ke rumah, keluarga, dan masyarakat.


Posting Komentar