PKS Kabupaten Tangerang
Oleh: Zico Alviandri 



(Cerpen ini adalah parodi dari cerita KKN di Desa Penari yang viral kemarin. Mungkin sudah tidak ramai lagi ya? Sudah ganti isu RUU KPK dan kebakaran hutan.

Tokoh-tokohnya saya ambil dari lima karakter muda PKS: Kea, Adi, Dilan, Eja, Tera. Cerita sebelumnya sih settingnya ada di kampus dan mereka baru semester satu. Tapi untuk cerpen ini dibuat beda. Dialog-dialognya sebagian saya ambil dari cerita KKN di Desa Penari. Terbuka sekali kritik dan sarannya.)

*****

Di tepi pertigaan jalan, berdiri sebuah warung kopi dengan bangunan semi permanen. Jarang-jarang ada bangunan di pinggir jalanan beraspal mulus di sepanjang jalur alas/hutan D itu. Di dalamnya, lima anak kuliahan menyantap masing-masing semangkuk mie rebus lengkap dengan telur dan sayurnya. Serta beberapa butir cilok baru masak. Mereka butuh makanan hangat untuk mengimbangi dinginnya udara di daerah yang baru mereka jejaki.

Rombongan mahasiswa itu terdiri dari dua orang lelaki dan tiga perempuan dengan barang bawaan yang cukup banyak. Tas mereka penuh. Terlihat seperti orang yang akan menginap lama di suatu tempat.

“Mas-mas dan mbak-mbak ini dari mana?” tanya penjaga warung sambil mengelap gelas-gelas yang habis dicucinya.

“Dari kota S, Pak,” jawab salah seseorang dari mereka bernama Dilan.

“Oh. Tujuannya mau ke mana? Dalam rangka apa?”

“Mau ke Desa W, mau KKN.”

“Ooo…” Penjaga warung mengangguk. Pertigaan itu memang jalur masuk menuju desa yang disebut. Jalan ke sana belum diaspal dan berbatu. Semakin jauh lebar jalan akan menyempit hingga hanya jalan setapak. Tak bisa dilewati mobil. Hanya sepeda, atau paling canggih motor yang biasa melintas.

“Ke sini naik apa?” tanya pejaga warung lagi.

“Dari kota S kami naik bis ke kota B. Disambung naek mobil Changan sampai ke sini. Nanti kami dijemput sama ojek, mas. Sudah dipesan untuk 5 orang,” Dilan kembali menjawab.

“Changan apa Esemka?” penjaga warung memastikan.

“Eh… Changan apa Esemka ya? Ga tau deh.. Abis mirip. Hehehe…”

“Semoga sukses ya KKN nya. Ke desa W nya jangan sore-sore. Khawatir kemalaman di jalan. Nanti setelah kalian sampai dan masuk ke jalanan hutan, jalan saja ya terus. Gak usah berhenti apalagi mengurusi hal apapun. Sampai sini paham ya mas?” Penjaga warung kali ini berbicara dengan nada dan tatapan lebih serius.

“Jangan lupa doanya yang banyak,” katanya lagi. “Yang paling penting, jika kalian dengar suara tanpa wujud, tetap lanjut saja. Jika sampai kalian di bikin celaka, lalu kalian masih bisa melanjutkan, lanjutkan saja. Jangan pernah berhenti disana. Yang penting tidak usah dipedulikan. Kalian percaya saja. Doanya juga utamakan.”

Dua laki-laki di antara mereka mengagguk menerima wanti-wanti itu dengan santai. Berbeda dengan tiga wanita yang saling pandang. Mereka jadi penasaran, ada apa di dalam hutan? Seperti menyimpan sebuah misteri besar.

Dan tepat setelah penjaga warung berbicara seperti itu, terdengar suara beberapa motor mendekat dan lalu berhenti di depan warung.

“Eh.. itu kayaknya ojek yang jemput kita deh. Ayo buruan diselesain makannya,” kali ini Adi, laki-laki satunya di antara kelima mahasiswa itu, bersuara. “Pak, kami pamit ya,” Katanya kepada penjaga warung sembari menyerahkan sejumlah uang.

Yang diajak bicara mengangguk. "Kulo dongakno sampeyan sampeyan selamet sampai nang Tujuan." (Saya doakan kalian selamat sampai tujuan)

*****

Masing-masing mereka dijemput berdasarkan jenis kelaminnya. Alhamdulillah, di desa itu ada juga tukang ojek wanita. Sehingga anak-anak putri yaitu Kea, Eja, dan Tera, diboncengi oleh pengemudi wanita. Sedang Adi dan Dilan oleh pengemudi pria.

Gerimis turun membuat jalan tanah yang mereka lintasi berlumpur. Dahan-dahan pohon melambai dan sesekali menyolek badan mereka. Sementara motor yang mereka tumpangi berjalan dengan suara seperti sudah mau “ngadat” menempuh medan mendaki dan turunan.

Sudah hampir satu jam lebih. Itu yang dirasakan salah satu dari mereka, yaitu Tera. Motor berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Agak gelap, mengandalkan pencahayaan matahari senja yang dihadang dedaunan. Tera ingin segera sampai. Ia khawatir, perjalanan setengah jam ke Desa dari warung tadi yang dijanjikan Adi sejatinya adalah setengah hari.

Suara motor meraung. Sementara para penumpang dan pengemudi tak saling bicara. Aneh. “Apakah semua warga desa itu pendiam?” tanya Tera dalam hati. Berkecamuk pikiran Tera apakah ia akan mampu menghabiskan waktu 6 pekan ke depan di sebuah kampung yang jauh di tengah hutan.

Tera teringat kembali saat ia mengajukan izin untuk KKN di desa W kepada ibunya. Menyandar di gedung kampus, ia duduk menyendiri. Tampak gugup. Hingga gawainya berdering dan layar menampilkan tulisan “Mama”.

“Aku sudah dapat tempat untuk KKN, Ma,” ujarnya melalui telepon.

“Di mana?” jawab suara di seberang.

“Di kota B, disebuah desa di kabupaten K. Banyak proker untuk dikerjakan. Tempatnya cocok untuk KKN.”

Selanjutnya Tera menangkap suara agak tegang dari ibunya.

"Gak onok nggon liyo, lapo kudu gok Kota B? Nggok kunu nggone Alas tok. Ra umum di nggoni gawe menungso " (Apa gak ada tempat lain, kenapa harus kota B? Di sana tempatnya hutan semua. Tidak bagus ditinggali oleh manusia)

Lama Tera terdiam. Wajahnya nampak kebingungan. Lalu ia pun bertanya, “Mah… Aku gak ngerti. Kita kan orang Sunda. Kenapa Mama ngomong Jawa?”

“Eh… Maaf Tera. Itu dialog cerita KKN di Desa Penari. Kebawa-bawa jadinya. Maksud Mama, apa tidak ada desa lain yang tidak terletak di tengah hutan? Mama takut. Perasaan Mama gak enak. Apa tidak bisa diundur satu tahun lagi?”

“Insya Allah ada sahabat-sahabat aku yang sholeh, Ma,” Tera mencoba meyakinkan. Tidak mudah. Tapi akhirnya si ibu pun mengizinkan. 

Tera pun sebenarnya takut. Tapi ia sembunyikan. Rasa takutnya semakin bertambah ketika di tengah perjalanan tadi, tepatnya di kota J, ia melihat kakek-kakek peminta-minta di perempatan jalan memandangnya dengan prihatin. Kepala orang tua itu menggeleng seolah meminta Tera mengurungkan niatnya. Tapi tidak mungkin. Ia bisa membuat sahabat-sahabatnya kecewa bila pulang.

Ya, mau tak mau ia harus beranikan diri hidup di desa terpencil untuk hari-hari ke depan. Desa yang kini sedang ditujunya melintasi hutan belantara. Bersama motor yang memecah rintik gerimis.

Namun tiba-tiba ada hal yang membangkitkan bulu kuduk Tera. Terdengar sebuah suara seperti seperangkat gamelan sedang dimainkan. Suara yang begitu syahdu. “Apakah ada yang hajatan di dekat sini?” Tanyanya dalam hati. Kepalanya memandang ke sekitar. Hanya terlihat pepohonan dan semak belukar.

Suara itu perlahan menghilang. Dan sampai lah ia di depan gapura yang menuliskan nama desa. Tera Lega. Perjalanan panjang ini berakhir juga.

*****

“Kawan-kawan, sini, aku kenalin dengan pak Kades. Nama beliau pak Prabu,” ajak Adi kepada kawan-kawannya setelah para tukang ojek mengantar mereka ke halaman rumah kepala desa.

Seorang dengan wajah tenang, berkumis tebal, mengenakan batik khas ketimuran, berdiri seperti sudah menunggu sejak tadi.

“Selamat datang, adik-adik,” ujarnya menyalami Adi dan Dilan. Satu persatu ke lima anak itu memperkenalkan diri. “Semoga betah ya di sini. Tapi maaf, saya tidak bisa memenuhi permintaan kalian seperti tidur di kamar ber-AC, dan dapat fasilitas wifi gratis.”

“Lho, pak… Kami gak minta itu kok,” kening Adi mengernyit.

“Ya gak apa-apa. Sekarang kan lagi musim menolak sesuatu yang tidak diminta.”

Adi menggeleng-geleng kebingungan. Ia pun teringat perihal kehebohan revisi UU KPK baru-baru ini. Seperti ada kesamaan.

“Desa ini sangat terpencil. Apakah keamanan di sini terkendali, pak?” Dilan bertanya basa basi.

“Itu bukan urusan saya,” jawab Kepala Desa.

“Lho… kan itu persoalan Desa di sini yang jadi tanggung jawab bapak?” Tanya Dilan lagi.

“Kalo gitu, tanya Menteri Desa.”

“Hah? Saya cuma bertanya tentang desa ini pak. Kalo semua desa terpencil, baru urusannya Menteri Desa.”

“Kalo gitu tanya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Dia mengurus macam-macam hal.”

Dilan menarik nafas panjang. Yang lain pun terlihat jengkel berdialog dengan pak Prabu. Mereka sudah ambil ancang-ancang untuk segera menuju ke tempat tinggal yang disediakan. Namun tiba-tiba pandangan Tera menangkap sesuatu yang asing.

Tak jauh dari rumah kepala desa, ada pemakaman yang dikelilingi pohon beringin. Di setiap pohon beringin ada batu besar di sampingnya. Uniknya, batu-batu nisan di pemakaman itu ditutup oleh kain hitam. Tera penasaran, apa maksud tradisi seperti itu.

“Mohon maaf pak, ini kenapa ya kok…”

Belum selesai Tera bertanya, pak Prabu memotong pembicaraan.

"Saya tau apa yang adik mau katakan. Pasti mau tanya, kok nisannya di tutupi pakai kain. Gitu to?"

Tera mengangguk.

“Itu seragam futsal anak-anak sini yang dijemur di batu nisan.”

“Lah… Kok dijemurnya di batu nisan, pak?” Tanya Tera lagi.

“Emang ngapa sih gak boleh? Shombong amat,” jawab kepala desa meniru dialog Mandra di sinetron Si Doel Anak Sekolahan.

“BUKAN GITU JUGA, BAMBAAAANG…..” Tera emosi. Anak-anak yang lain panik dan takut kalau kepala desa marah dengan nada suara Tera yang meninggi.

“Kok tahu nama saya Bambang?” tukas kepala desa dengan senyuman. Alhamdulillah, syukurnya ia tidak marah.

“Lho… Bukannya nama bapak, Prabu?” Adi yang bertanya.

“Iya. Bambang Prabu.”

“Ooooh….” Anak-anak mengangguk kompak.

Nama lengkapnya Bambang Prabu Indro Panjaitan. Orang Batak memang, tapi sudah lama tinggal di Jawa. Menyingkat namanya, kita bisa paham mengapa ia bergaji seratus juta perbulan.

Hampir maghrib. Langit semakin gelap. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Dialog yang unfaedah itu pun diselesaikan. Pak Prabu mengantar mereka ke tempat tinggal untuk satu setengah bulan selama mereka mengabdi di desa yang indah itu.

*****

“Kea, Eja… Tadi kira-kira perjalanan kita berapa lama ya?” Tera yang tengah berbaring sambil memeluk guling bertanya kepada dua kawannya yang sudah siap hendak tidur. Mereka menempati sebuah kamar di sebuah rumah. Sedang kawan laki-lakinya ada di rumah yang lain.

Di gawai mereka sekarang menunjukkan pukul 08.30 malam. Kalau di kota, suasananya masih terang. Tapi di desa itu sudah sangat gelap dan mencekam. Sunyi. Hanya suara jangkrik bersautan sebagai hiburan.

“Cuma setengah jam kok,” jawan Eja.

“Kok perasaanku satu setengah jam ya?” balas Tera. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar.

Mereka tidur di kasur yang menghampar di atas lantai yang terbuat dari kayu. Memang rumah yang mereka tempati itu seperti rumah panggung. Listrik sudah masuk di desa itu. Sehingga lampu lima watt terpasang di langit-langit ruangan menerangi kamar yang berukuran 5x4 meter.

“Itu cuma perasaan kamu aja kali. Kamu pengen buru-buru sampai.”

“Ah masak sih… Aku nyantai aja kok, nikmatin perjalanan. Terus ya, tadi aku mendengar bunyi suara gamelan sebelum sampai ke desa ini. Kalian denger gak?”

“Itu bukan suara gamelan, Tera. Itu suara musik Senam Maumere. Kamu gak liat ada ibu-ibu pake kaos sama celana training lagi senam, tadi?” jawab Eja lagi.

“Hah? Kok aku cuma liat hutan ya? Masak sih? Emang kamu ngeliat, Kea?” Tera bertanya pada kawannya yang lain yang sedang asyik dengan gawainya.

“Iya. Tadi itu sebelum masuk desa ada kayak ibu-ibu PKK lagi senam. Kenapa kamu dengernya gamelan ya? Aneh deh kamu.” Jawab Kea.

Tera pun bingung. Yakin sekali ia hanya melihat hutan di perjalanan tadi. Tak ada kumpulan manusia yang beraktivitas saat ia mendengar gamelan itu. Dan teringat pula pesan penjaga warung, bahwa ada kemungkinan di perjalanan mereka akan mendengar suara tanpa wujud. 

“Terus, tadi kalian mencium bau-bau aneh gak di tengah perjalanan? Kayak bau menyan.” Tera bertanya lagi.

“Nah, kalo itu aku juga mencium. Bau apa itu ya? Kamu menciumnya juga gak, Kea?” ujar Eja.

“Oooh. Iya sama. Terus aku tanya ke yang bawa motor, ‘mbak, kamu kentut ya?’ ‘Iya nih, aku lagi mules,’ gitu jawab supir ojeknya.”

“Oalaaah.” Eja menepuk jidat. “Kok bisa bau menyan?”

“Eh, aku mau pipis nih sebelum tidur. Temenin dong ke kamar mandi,” pinta Tera.

“Dih, sana jalan sendiri. Udah gede juga. Penerangannya cukup kok,” tukas Eja.

“Aku takuuuut….” Tera merengek. Akhirnya Kea bersedia menemani kawannya yang manja itu.

Sebelum tidur, Tera sempat membaca doa. Namun sayangnya ia tetap bermimpi buruk. Sampai berteriak keras saat sedang tidur. Kawan-kawannya membangunkan dengan menggoyang-goyang tubuhnya serta menampar pipinya. Tera pun terbangun dengan wajah pucat dan berkeringat. Ia sangat ketakutan.

*****

Tera tidak nyaman di desa itu. Hampir setiap malam ia bermimpi buruk. Mimpi tentang wanita-wanita berpakaian jawa menari diiringi suara gamelan. Para penari itu tak memiliki wajah. Menakutkan.

Sudah, ia sudah berdoa sebelum tidur. Walau pun Eja menuduhnya lupa. Kea menerangkan, bahwa walau pun telah berdoa, tapi bila hati tidak yakin, tidak akan mustajab. Hanya doa yang diucapkan sepenuh hati dengan yakin dan tawakkal kepada Allah lah yang punya pengaruh terhadap yang membacanya.

Tera tidak pernah berani ke kamar kecil sendirian, terutama bila sudah malam. Ini membuat kawan-kawannya kerepotan. Apalagi bila terjaga dini hari setelah mimpi buruk, kawannya harus ikut terbangun lalu menemaninya ke kamar mandi.

Para tetangga di dekat tempat mereka tinggal pun sudah sering mendengar suara teriakan ketika Tera mengigau saat tidur. Dan cerita ini pun sampai juga di telinga pak Prabu.

Menyikap hal itu, pagi ini Tera dan kawan-kawan diajak pak Prabu ke rumah seorang sesepuh yang terletak di tepi hutan. Rumah itu terlihat paling bagus di desa ini. Berpagar batu-bata merah dengan banyak bambu kuning. Rumah tua namun enak dipandang.

Pak Prabu memanggilnya mbah Buyut. Ia seperti sudah tahu akan kedatangan orang, karena ketika mereka tiba, mbah Buyut tengah berdiri di pagar pekarangan. Tampilannya misterius. Tera menyangka bahwa orang itu adalah dukun di kampung ini. 

Setelah dipersilakan masuk ke dalam, di ruang tamu Pak Prabu menjelaskan semuanya. Tentang Tera yang sering bermimpi buruk di malam hari. Lantas dengan suara serak, mbah Buyut meminta izin masuk ke dalam rumah. Tak lama ia kembali membawa tujuh gelas kopi yang dihidangkan di atas meja.

“Monggo,” kata Mbah Buyut kepada Tera.

Awalnya Tera menolak, karena belum pernah meminum kopi. Ia pun curiga, minuman yang disuguhkan telah diberi ramuan. Namun setelah didesak, akhirnya Tera memangkat sebuah gelas di atas meja untuk meminumnya walau hanya satu tegukan. "Jangan menolak pemberian tuan rumah," begitu suara Mbah Buyut.

“Bagaimana rasanya?” tanya sesepuh itu.

Tera terdiam agak lama. Sementara orang-orang menunggu jawabannya. Lalu ia pun berujar, “Nadia, cappuccino buatanmu, nomero uno….” ujarnya sambil mengacungkan jempol.

Kawan-kawannya kaget dengan jawaban Tera. Kok anak itu niru-niru iklan? Kesambet kali ya?

Mbah Buyut hanya tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala.

“Begini,” katanya. Suaranya berwibawa. Khas tetua-tetua jawa. "Sepurane sing akeh nduk, sampeyan onok sing ngetut'i" (mohon maaf ya nak, kamu, ada yang mengikuti).

Tera tidak paham bahasa Jawa. Lalu pak Prabu menjelaskan artinya. 

“Hah? Siapa yang mengikuti saya, Mbah?” Tera terkejut.

“Suatu makhluk lah. Cukup banyak. Sampai lima belas ribuan.”

Tera makin ketakutan.

“Makhluk apa itu Mbah? Bagaimana mengusirnya?”

Kea merasa tidak nyaman dengan kata-kata mbah Buyut. Ia khawatir Tera akan disuruh melakukan ritual yang bermuatan syirik. Sementara dia juga bingung harus berbuat apa kalau benar ada jin sebanyak itu membuntuti Tera. Ia belum pernah meruqyah orang.

“Maaf mbah. Apa kami bisa lihat buktinya bahwa kawan kami ini diikuti makhluk jahat?” Tanya Kea.

Mbah Buyut kembali tersenyum dan mengangguk. “Bisa…” Jawabnya.

“Bagaimana caranya, Mbah?” Tanya Kea lagi.

“Coba buka handphone kalian. Buka Instagram, dan buka akun Tera. Terlihat kan ada 15.000-an lebih akun yang mengikuti dia?” Jawab mbah Buyut.

“Oalah, Mbaaah…. Follower Instagram rupanya,” ujar kawan-kawan Tera serempak. “Kami kira kawan kami diikuti jin jahat,” kata Kea. “Kok kesel ya…” kata Adi.

Mbah Buyut tertawa di tengah kejengkelan para tamu. Memang parah ini kakek-kakek tukang stalking.

“Untuk mengobati mimpi buruk kamu, kita harus cari ayam kampung untuk disembelih,” ujarnya lagi.

Kea dan Dilan terkejut. Mereka tidak mau melakukan ritual penyembelihan yang bukan untuk Allah. Mereka takut jatuh kepada perbuatan syirik.

“Maaf mbah, ayam yang disembelih itu buat apa?” Dilan memberanikan diri bertanya.

“Ya buat makan-makan lah. Kita adakan kenduri. Kita undang warga sekitar, sama anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) di sini. Nanti anak-anak itu akan menunjukkan keterampilannya bernyanyi, menari, dan hafalan Qur’an untuk menghibur kalian. Tujuannya, supaya kalian, terutama Tera, semakin nyaman berada di sini. Kalau begitu mudah-mudahan mimpi buruknya hilang. Malah, mungkin Tera akan dapat jodoh di sini,” mbah Buyun mengedipkan matanya. Genit.

“Waah… Asyik mbah. Kendurinya saya setuju. Tapi kalau mejodohkan Tera dengan anak kampung sini…. Saya khawatir Adi yang jadi mimpi buruk tiap malam,” celetuk Dilan. Tiba-tiba sebuah sikutan mendarat ke tulang rusuknya. Telak. “Ugh…” Jeritnya.

Mbah Buyut dan yang lain tertawa. Lalu ia pun berdiri dan mengajak mereka ke kandang ayam di belakang rumah.

*****

Kenduri di rumah mbah Buyut cukup semarak. Sejak siang warga berdatangan ke rumah, lalu diperkenalkan kepada kelima mahasiswa itu. Pemberitahuan ke warga cukup mudah. Cukup melaui grup whatsapp. Dan orang-orang antusias datang ke rumah mbah Buyut karena memang masakan ayam grepek beliau sangat disukai warga.

Sesuai rencana, anak-anak TPA pun diundang. Rupanya hafalan Qur’an dan hadits mereka bagus-bagus. Tapi sayangnya, tenaga pengajar masih kurang. Tentu dengan antusias Kea dan kawan-kawan menyanggupi untuk membantu mengajar mengaji selama di desa itu.

Bahkan tak hanya anak-anak, warga sekitar pun akan diajar tahsin (perbaikan baca Qur’an) oleh Dilan. Waktunya tiga kali seminggu di musholla. Dilan memang punya bekal untuk mengajar tajwid dan makhrojal huruf. Warga di sana cukup antusias untuk belajar mengaji.

Yang menarik lagi, Kea dan Dilan bertemu kader PKS di desa itu. Bahkan ada DPRa (Dewan Pimpinan Ranting) yang markasnya agak jauh dari rumah tempat mereka tinggal. Kea dan Dilan pun diundang untuk ikut Ta’lim Rutin Partai yang diselenggarakan di sana.

Hari itu begitu menyenangkan bagi mereka berlima. Harusnya, Tera sudah nyaman dan tidak takut lagi. Tapi rupanya masih. Saat malam tiba, kembali rasa takut muncul di hati Tera. Kecewa dan bingung harus berbuat apa, kawan-kawannya masih tetap menemani Tera ke kamar kecil bila diminta.

*****

Tengah malam, tangan kiri Kea meraba ke kasur di sebelahnya. Kosong. Kea pun terkejut hingga terduduk. Harusnya ada Tera di situ, tidur di tengah di antara dua kawannya.

“Eja, bangun. Tera gak ada di kamar,” Kea membangunkan Eja.

Eja terbangun dan terkejut. “Kemana dia?”

“Di kamar mandi kali? Aku liat dulu ya.”

“Aku ikut, Kea.”

Mereka berdua berjalan menuruni tangga menuju kamar mandi yang bangunannya terpisah dari rumah. Penerangan di rumah itu cukup meski tidak begitu jelas. Dan ketika pintu kamar mandi dibuka, mereka tak menemukan Tera di sana.

Mereka berdua berpandangan. Di mana Tera? Panik. Mereka harus cari kemana? Ke luar rumah? Haruskah membangunkan bapak/ibu pemilik rumah di tengah malam begini?

“Gimana ini?” tanya Eja.


“Eh… liat deh. Lantai ini basah. Kayak ada yang baru dari kamar mandi. Apa mungkin itu Tera? Tapi kemana?” Kea menunduk mengamati lantai tempat ia menginjakkan kaki.

Terlihat jejak basah yang mengarah ke dalam rumah. Eja inisiatif mengeluarkan gawai lantas menyalakan senter. Mereka berdua mengikuti arah jejak tersebut. 

Berakhir di ruang tengah. Di sana mereka menemukan sesosok wanita mengenakan mukena sedang bersimpuh beralas sajadah. Bentuk tubuhnya mereka hafal.

“Tera… Ngapain kamu di sini?” tanya Kea.

“Lagi masak cilok. Ya sholat laaaah….” jawab Tera.

“Kamu berani? Masya Allah… Kamu gak lagi kesambet, kan?”

“Alhamdulillah. Aku coba melawan rasa takutku. Dan bisa,” ujar Tera. Teman-temannya takjub melihat pemandangan yang mereka lihat.

“Aku kebangun lagi. Mimpi buruk lagi. Aku tadinya mau bangunin kalian minta temenin ke kamar kecil. Tapi aku teringat obrolan dengan mbak Nisa yang nelpon aku tadi sore.” Tera menyebut nama kakak kelas yang membantunya belajar Islam. Setiap sepekan sekali Tera bertemu mbak Nisa dalam sebuah kelompok pengajian kecil. Di sana Tera diperbaiki bacaan Qur’annya, serta mendapat taushiyah tentang Islam.

“Mbak Nisa bilang, apa aku masih inget materi-materi tentang syahadat? Aku jawab iya. Mbak Nisa mengingatkan aku bahwa di antara makna ‘Ilah’ adalah sesuatu yang ditakuti, juga tempat bergantung. Aku gak boleh takut selain kepada Allah. Dan juga, Allah tempat aku menyandarkan semua permohonan. Termasuk ketika aku dalam rasa takut, cemas, dan terdesak.

Aku gak mau syahadatku sia-sia gara-gara rasa takut ini. Jadi, aku coba untuk ke kamar mandi sendiri. Aku biarkan rasa takut untuk jadi ajang berharap kepada Allah. Semakin takut, semakin aku kuatkan permohonan kepada Allah.

Rupanya bisa. Aku sebenernya sudah selesai pipis dan mau balik ke kamar. Tapi rasa harap itu rupanya menyadarkan bahwa aku sangat membutuhkan Allah. Aku lihat jam di handphone, udah jam setengah empat pagi. Ya udah, aku balik ke kamar mandi untuk ambil wudhu untuk qiyamullail.

Malam ini aku merasakan pengalaman spiritual yang luuuaaaarrrr biasa yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Gara-gara rasa takut, aku sadar, aku yang butuh segalanya kepada Allah selama ini sering durhaka kepada-Nya. Aku masih belum bisa nutup aurat. Aku mau bertaubat kepada Allah, memohon ampun atas segala kelancangan selama ini. Dan berdoa agar rasa taat ini tidak hadir saat terdesak aja.”

Kea dan Eja bengong mendengar penuturan tersebut. “Masya Allah, Teraaa….” ujar Kea. Mereka bertiga pun berpelukan di tengah gulita malam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama